Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Ya Rasulallah . . .

Masyayikh dari Habib Muhammad Al Maliki
Ayah beliau sendiri
Al Muhaddits Habib Alwi bin Abbas Al Maliki
al-'Arif Billah Sayyid Syeikh Soleh al-Ja'fari
as-Sayyid Syeikh Abu Hassan an-Nadwi 
habib hasan bin muhammad fad'aq 
syekh hasan masyath
Syekh Mahmud Effendi al-Naqshbandi 
Syeikh Hassan Bin Saed al-Yamani al-Hijazi
Syeikh Sayyid Makki al-Kittani 
Syeikh Soleh al-Farfur 
Syeikh Yasin Isa al-Fadani
Sholawat Al-Anwar

Qasidah Habib Abdullah bin Husin bin Thohir

Habaib-01
Al Muhaddits Al Quthb Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih - Malang
Al Quthb Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid - Tanggul
Al Quthb Sayyid Muhammad Amin Al Kutbi - Mekkah
Cucu dari Shohibul Maulid Al Habsyi
Jeddah - Saudi Arabia
Al Quthb Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Syihab
Mata Hati Kota Tariem ('Ainu Tariem)
Habib Munzir bin Fuad Al Musawa
Habib Muhammad Syahab - Jakarta

Ulama Banjar-12
3 Masyayikh Banjar (dari kiri ke kanan)
Al 'Arifbillah Asy Syekh KH. Muhammad Semman Mulia
Al 'Arifbillah Asy Syekh KH. Muhammad Syarwani Abdan Bangil
Al 'Arifbillah Asy Syekh KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani
Al Mufassir KH. Muhammad Rosyad Tunggul Irang - Martapura
KH. Muhammad Thaberani
KH. Ahmad Hudori 
Kampung Melayu Martapura
Syekh Sekumpul bersama
Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki

Ulama Banjar-11
Paling Kiri (Hb Husein Ba'bud Rantau)
& Paling Kanan (Mu'allim KH. Syamsuni - Negara HSS)
KH. Syamsuni (Negara-HSS) bersama Syekh Sekumpul
KH. Syamsuni (Negara-HSS) bersama Habib Munzir Al Musawa
Muallim KH. Syamsuni (Negara-HSS)
(salah satu murid kesayangan dari Al 'Arifbillah KH. Semman Mulia (Martapura)
Keutamaan Bulan Sya'ban

Keutamaan Bulan Sya’ban Dan Nisfu Sya’ban…

Oleh: T.Fidriansyah
Dikutip dari buku al-Fawaaidul Mukhtaaroh

Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata,
“Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alan Nabiy … diturunkan pada bulan itu. (Ma Dza Fiy Sya’ban?)

Tuanku Kanjeng Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata,
“Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.” (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)

Konon Sayidina Ali bin Abi Tholib Karromalloohu Wajhah meluangkan waktunya untuk ibadah pada 4 malam dalam setahun, yakni: malam pertama bulan Rojab, malam 2 hari raya, dan malam Nishfu Sya’ban. (Manhajus Sawiy dan Tadzkiirun Nas)

Al-Imam As- Subkiy.rhm berkata, bahwa malam Nishfu Sya’ban menghapus dosa setahun, malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan Lailatul Qodr menghapus dosa seumur hidup.

Diriwayatkan kapadaku bahwa Sahabat Nabi Usamah bin Zaid.ra berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi,

“Bulan itu sering dilupakan orang, karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.” (HR Ahmad dan Nasai – Sunah Abu Dawud).
Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

Hadis Pertama
Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam dia kehilangan Rasulullah SAW, ia keluar mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan Baqi’, sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis Kedua
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Hadis Ketiga
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

Sumber MILIS MAJELIS RASULULLAH SAW
Mujahadah Tokoh Alawiyyin (2)

Mujahadah tokoh Alawiyin (2)

Syaikh Abu Bakar bin Salim, pernah tinggal selama beberapa lama, berpuasa tanpa berbuka kecuali kurma keras. Juga pernah berdiam selama empat puluh tahun melaksanakan shalat Subuh dengan wudhlu’ dari shalat Isya’.

Dikisahkan oleh salah seorang murid beliau Syaikh Hasan Basyu’aeb, bahwa beliau pernah merasa lapar selama satu atau dua minggu. Bahkan pernah melalui masa satu tahun tanpa memejamkan mata. Dikisahkan, beliau di Yabkhar pernah tidak makan selama sembilan puluh hari, artinya tiga bulan. Dan bahwa beliau pernah melaksanakan shalat Subuh dengan wudhu’ Isya’ selama empat puluh tahun. Setiap malam beliau pergi berziarah ke pekuburan di kota Tarim. Kemudian kembali dan melaksanakan shalat Subuh di Masjid Ba’isa di Lasik.

Beliau berkata: “Saya pernah mendengar kakek saya Syaikh Ahmad bin Hasan Basyu’aeb, bahwa beliau membaca kitab Al-Minhâj sebanyak tiga kali. Dan melalui kisah dari beliau atau orang lain, bahwa kakeknya sudah membaca kitab Al-Ihyâ sebanyak empat puluh kali.

Syaikh Abdullah bin Alawi al-Haddad sejak kecil melakukan shalat sebanyak dua ratus rakaat di masjid Bani Alawi. Apabila pulang dari tempat pendidikan pada waktu Dhuha, beliau suka mengunjungi beberapa masjid bersama rekan belajarnya, Syaikh Ahmad bin Abdullah Bilfaqih. Lalu masing-masing melakukan shalat seratus rakaat. Beliau juga banyak membaca zikir terutama ucapan “lâ ilâha illallâh” bahkan ketika sedang berbincang-bincang dengan orang lain ataupun sedang belajar.

Syaikh Ahmad bin Zein al-Habsyi pada masa kanak-kanak, beliau sudah cenderung, berupaya dan berambisi untuk meningkatkan perbuatan-perbuatan baik dan kebaktian, khususnya dalam bidang menuntut ilmu. Beliau suka melakukan perjalanan ke kota-kota sekitarnya, sejak dari al-Ghirfah, ke Syibam, Turais dan Sewun dengan berjalan kaki sampai ke Tarim dalam rangka menuntut ilmu. Tanpa mempersoalkan masalah makan. Beliau makan seadanya. Menekan diri hidup dengan sederhana, sehingga sudah merasa cukup dengan hanya tiga suap. Bahkan tidak mampu makan lebih dari tiga suap. Adakalanya beliau berhasrat kepada makanan-makanan yang baik, tetapi ia tidak dapat memakannya karena usus-ususnya sudah menyempit sehingga tidak dapat memuatnya.

Salah seorang guru kami Al-’ârif billâh Habib Hasan bin Shalih al-Bahar juga memiliki kepribadian serupa, sebagaimana hal itu kami dengar dari orang-orang terpercaya. Seorang guru kami yang juga merupakan guru dari para guru kami Al-’ârif billâh Habib Idrus bin Umar al-Habsyi menanyakan kisah tersebut kepada guru beliau Habib Hasan, lalu beliau pun membenarkannya.

Di antaranya membatasi makan, tekun melakukan riyadhah (latihan jiwa), sampai jiwanya tidak dapat menerima makanan. Apabila sesekali ia makan roti milik ibunya, maka roti itu tidak dapat bertahan di perutnya, tetapi cenderung hendak keluar, lalu ia pun mengeluarkannya. Ia pun tinggal sekian lama dalam rangka menuntut ilmu di Tarim kepada al-Aswadain dengan hanya makan kurma dan air.

Guru kami yang juga guru para guru kami Habib Idrus berkata: “Habib Hasan bin Shalih suka bepergian ke Tarim untuk menuntut ilmu. Beliau bersama dengan Mu’allim Abdullah bin Salim bin Sumair, keduanya tinggal beberapa lama di sana tanpa makanan kecuali sedikit kurma untuk pagi dan petang dalam rangka melatih jiwa dan dalam rangka meneladani beliau SAW. yang mana Rasul SAW. pernah melalui masa dua bulan tanpa makanan kecuali kurma dan air.

Lebih lanjut Habib Hasan berkata kepada Mu’allim Abdullah: “Marilah kita ganti  makanan kita dengan tepung masam dan bukan kurma. Sebab cahaya dari makanan tepung lebih utuh dan lebih sempurna dibanding kurma.” Mu’allim menjawab: “Cukuplah bagi kita cahaya kurma, tidak perlu kita memperluas ke cahaya tepung.”

Demikian diriwayatkan oleh salah seorang ulama besar muridnya, yaitu Habib Ubaidullah bin Muhsin as-Saggaf yang telah menghimpun ucapan-ucapan beliau.

Yang dimaksud dengan makanan “tepung masam” di atas, adalah makanan sejenis adonan tepung yang minyaknya sudah dikeluarkan.

Pada masa-masa beliau tinggal di Syibam, maka beliau berbuka dalam bulan Ramadhan dengan hanya roti jagung yang kerapkali bersifat kurang bersih dan tidak lezat. Disertai dengan minum kopi. Bahkan beliau juga melakukan puasa selama beberapa hari tanpa merasakan minum kopi sekalipun di dalam berbuka.

Beliau banyak membaca al-Quran di dalam shalat dua rakaat. Pada malam-malam tertentu, beliau suka membaca Surat al-Ikhlâsh sampai sembilan puluh ribu kali. Dan terjadi beberapa kali, beliau membaca Surat Yaa Siin sebanyak empat puluh kali di dalam satu kali duduk. Secara rutin membaca kalimat tauhid. Maka tersingkaplah kepada beliau berbagai kasyf (penglihatan ke alam gaib) yang penting.

Masa-masa ketika beliau tinggal di Tarim, tidak lain hanya sekedar untuk mengistirahatkan kepala beliau.
Pernah terjadi pada awal beliau menjadi populer, ketika itu beliau tinggal di Tarim, tiba-tiba ada tiga ekor ayam jantan naik ke atas dinding tempat beliau berada. Lalu salah seekor daripadanya mengajaknya berbicara dengan bahasa yang jelas dan uraian yang fasih.”

Terdapat cerita-cerita lain tentang mujahadahnya dan juga keanehan-keanehan dalam jumlah banyak.

Demikian juga salah seorang guru dari para guru kami Imam Besar Abdullah bin Husain bin Thahir. Beliau melakukan mujahadah-mujahadah yang berat dalam upaya menjaga waktu, mengerahkan perhatian untuk berzikir dan berdoa. Setiap hari beliau membaca 25.000 (dua puluh lima ribu) kali “lâ ilâha illallâh”, 25.000 kali “yâ Allâh”, dan bershalawat kepada Nabi SAW. sebanyak 25.000 kali. Masih ditambah dengan berbagai wirid dan zikir. Beliau suka mandi dan memakai minyak wangi setiap hendak melaksanakan ibadah wajib.
Pernah ada seseorang yang memberi hadiah sebuah jam kepada beliau dan mengajarkan kepada beliau cara menjalankannya. Tiba-tiba jam itu tidak berjalan. Beliau ditanya tentang jam itu. Lalu menjawab: “Saya tidak punya waktu untuk menjalankannya.”

Habib Umar bin Zein bin Smith termasuk seorang ahli mujahadah yang ulung. Beliau pernah tinggal selama sekitar tujuh belas tahun tanpa menempatkan punggungnya ke lantai.

Habib Shalih bin Abdullah Al-’Aththas, pada awalnya beliau memiliki berbagai jenis mujahadah. Tinggal di Makkah selama tiga bulan tanpa makanan kecuali air zam-zam. Beliau selalu perhatian kepada Allah sekalipun berada di tengah khalayak ramai dan mengucilkan diri dari mereka.

Habib Abu Bakar Al-’Aththas memiliki berbagai ragam mujahadah dan zikir. Di antara wirid beliau setiap malam adalah membaca Surat Yâ Sîn seribu kali. Kemudian menguranginya pada akhir usia beliau sebatas dua ratus lima puluh kali setiap malam. Guru kami mengatakan: “Kami belum pernah melihat sedikit pun dari wirid-wirid beliau yang lain (selain Surat Yâ Sîn –pen).” Atau ucapan seperti itu.

Habib Thahir bin Umar al-Haddad tidak tidur pada malam hari selain hanya tiga jam saja. Seluruh waktunya dikerahkan untuk tugas-tugas ibadah, tidak pernah kosong.

Guru kami mengatakan: “Abid-abid dari kalangan kami pada zaman ini adalah Thahir bin Umar al-Haddad, Abdullah bin Hasan al-Bahar, Abdur Rahman bin Muhammad al-Masyhur, dan Zain bin Shalih bin Aqil bin Salim.”

Menurut pendapat kami, mereka juga memiliki berbagai metode-metode, upaya-upaya mengerahkan perhatian, juga konsenstrasi dalam ibadah yang terlalu panjang lebar untuk dijelaskan.

Kakek kami Habib Abdullah bin Thaha al-Haddad, tergolong orang yang memfokuskan diri ke arah keilmuan dan ibadah, disertai sikap zuhud dan kesederhanaan. Selanjutnya beliau pun dikuasai suasana zikir hati dan lidah, baik pada malam maupun siang hari, dalam keadaan terjaga maupun tidur, sehingga beliau dijuluki “si tukang bergumam”, karena banyak bergumam di dalam dzikrullah, bershalawat serta salam kepada Rasulullah SAW. Seperti itu pula sikap putra beliau, yaitu paman kami Habib Shalih bin Abdullah al-Haddad.

Sementara guru kami penyusun kitab manaqib, maka sudah kami jelaskan sebagian dari kepribadian beliau pada pasal pertama yang lalu. Berikut nanti akan kami tambahkan dengan beberapa hal yang belum dijelaskan.

Sumber : Kitab Uqudul Almas karya sayid Alwi bin Thahir al-Haddad.

Sumber :
http://benmashoor.wordpress.com/2009/08/25/mujahadah-tokoh-alawiyin-2/
Mujahadah Tokoh Alawiyyin (1)

Mujahadah tokoh Alawiyin (1)

Ketahuilah, bahwa sering dilakukan di kalangan para tokoh thariqah Alawiyah jenis-jenis mujahadah seperti yang dilakukan oleh para tokoh di dalam kitab Risâlah al-Qusyairiyyah, juga para tokoh yang disebutkan dalam kitab Hilyatul Auliyâ’ karya Abu Nu’aim rahimahumullah. Itu semua dijelaskan secara khusus di dalam kitab-kitab manaqib dan tarjamah mereka. Sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Ali bin Salim, murid dari Syaikh Abdullah Ba’alawi pada masa-masa ketika beliau tinggal bersamanya di Makkah pada bulan Ramadhan. Beliau berkata: “Apabila kami selesai melaksanakan shalat Tarawih, maka masing-masing dari kami mewajibkan diri untuk melaksanakan shalat dua rakaat yang di dalamnya kami membaca al-Quran seluruhnya dan kami tidak menyantap makan malam kecuali sesudah selesai dari dua rakaat tersebut, yaitu sesudah berbuka puasa dengan seteguk air atau sebutir kurma. Ketika itu saya belajar al-Quran kepada beliau dan masing-masing dari kami tidak keluar sebelum membaca setengah al-Quran.”

Ketika itu Syaikh Muhammad bin Alawi bin Ahmad cicit dari Al-Ustâdz al-A’zhâm (Al-Faqîh al-Muqaddam-ed.) suka menelaah bacaannya pada waktu malam. Lalu beliau pun terbuai sampai setengah malam atau sebagian besar waktu malam atau boleh jadi justru semalam suntuk. Dikisahkan, bahwa pelita (lampu minyak) telah membakar sebanyak tiga belas sorban beliau pada saat beliau membaca Al-Quran, karena begitu terbuai di dalam bacaan.

Juga dikisahkan dari Syaikh Muhammad Maula ad-Dawilah bahwa beliau pernah berdiam selama dua puluh tahun melakukan shalat Subuh dengan wudhu’ yang digunakan dalam shalat Isya’. Dan beliau melakukan puasa empat puluh hari secara beruntun selama musim panas.

Adapun putra beliau Syaikh Abdur Rahman as-Saggaf suka menyepi di perkampungan an-Nu’air pada sepertiga malam terakhir dan setiap malamnya beliau dapat menghatamkan al-Quran dua kali khatam. Juga setiap harinya dua kali khatam. Berlanjut dengan empat kali khatam pada malam hari, empat kali khatam pada siang hari. Dua kali khatam pada waktu sesudah shalat Subuh sampai kepada waktu Zhuhur. Satu kali khatam pada waktu seusai shalat Zhuhur sampai waktu Asar yang mana beliau baca di dalam dua rakaat. Juga beliau mengkhatamkannya sesudah shalat Asar.

Pernah beliau tinggal sekitar tiga puluh tiga tahun tanpa tidur pada malam hari maupun siang. Beliau mengatakan: “Bagaimana akan dapat tidur, bila mana seseorang yang apabila berbaring ke sisi kanan akan dapat melihat surga dan apabila berbaring di atas lambung kiri dapat melihat neraka.”

Tetapi penglihatan itu hanya dapat terlihat melalui mata hati yang terkadang berbalik ke jalur pandangan mata kepala. Itu dapat muncul kepada beliau lantaran kuatnya iman dan keyakinan.

Di dalam hadits tentang gerhana (al-kusûf) yang tercantum di dalam Shahih al-Bukhari terkandung keterangan yang mirip dengan makna seperti itu.

Beliau pernah berdiam di perkampungan Nabi Hud AS. selama satu bulan penuh tanpa makan kecuali hanya segenggam makanan dari tepung. Sedang putra beliau Syaikh Umar al-Muhdhor pernah menjauhi makan pada siang dan malam hari. Bahkan tinggal selama lima tahun tanpa makan sebagaimana kebiasaan masyarakat. Beliau juga pernah tinggal selama tiga puluh tahun tanpa makan kurma, dan beliau berkata: “Itulah hal yang paling saya sukai. Oleh karena itu saya dapat menahan diri.”

Beliau tinggal di daerah Ridah al-Musyqish selama satu bulan penuh tanpa merasakan sesuatu pun kecuali air. Beliau juga pernah menahan diri selama melakukan perjalanan ibadah haji selama empat puluh hari tanpa merasakan makanan maupun minuman. Makanan beliau tidak tersentuh dan tidak menjadikannya lemah dalam berjalan. Kemudian berada di lokasi perkampungan Nabi Hud AS. selama satu bulan tanpa makan selain dua belas potong ikan laut. Seringkali makanan pokok beliau adalah susu. Di samping itu beliau masih juga melakukan mujahadah-mujahadah lain.

Ketika itu putra saudara beliau yang bernama Syaikh Abdullah al-Aydrus, menjalani beberapa waktu tanpa makan lain kecuali kurma Isyrak. Beliau juga menjalani puasa selama tujuh tahun dan berbuka puasa hanya dengan tujuh butir kurma tanpa makan yang lain. Juga pernah selama satu tahun beliau tidak makan kecuali sebanyak lima cupak (mud). Juga pernah sepanjang satu bulan penuh, beliau tidak makan kecuali sebanyak satu cupak saja.

Beliau rahimahullah mengatakan: “Pada awalnya saya membaca buku-buku tashawuf, lalu saya menguji diri melalui cara mujahadah mereka sebagaimana dijelaskan di dalam kitab-kitab karangan mereka.”

Beliau tinggal selama tiga tahun dengan tidur di tempat-tempat sampah sebagai latihan jiwa. Selanjutnya tidak tidur selama lebih dari dua puluh tahun, tanpa tidur sedikit pun, baik pada malam maupun siang hari!

Beliau suka mengambil kitab yang mirip dengan Al-Minhaj, membaca isinya sejak awal petang sampai akhir malam. Dikisahkan, bahwa beliau rahimahullah pernah berkata bahwa beliau pernah berpegang pada kitab serupa Nasyrul Mahâsin dan kitab Athraf al-‘Ajâ-ib pada waktu Zhuhur. Beliau mempelajarinya dan menelaah isinya, maka sebelum tiba waktu Asar, beliau sudah sampai pada bagian akhir. Saya suka membiasakan diri mengerahkan perhatian untuk bersungguh-sungguh dan suka kepada sikap demikian. Dan rasa gemar itu datang dengan sendirinya.”

Sementara itu, saudara beliau yang bernama Syaikh Ali bin Abu Bakar tidak tidur malam hari kecuali hanya seperenamnya saja, ia membaca Kitab al-Quran dan membiasakan seperti itu, sedang suluknya adalah ajaran-ajaran pada kitab Tuhfah al-Muta’abbid.

Syaikh Quthb Abu Bakar bin Abdullah al-Aydrus, sebagaimana dikisahkan tentang mujahadah beliau, bahwa beliau pernah meninggalkan tidur malam selama lebih dari dua puluh tahun. Sementara menurut seseorang terpercaya yang menjadi pelayan beliau, bahwa hal tersebut berselang lebih dari tiga puluh tahun. Dan ia pun mengatakan: “Saya belum pernah melihat beliau terlelap tidur lebih dari tiga jam.”

Putra paman beliau bernama Syaikh Abdur Rahman bin Ali selalu perhatian kepada setiap ibadah fardhu, banyak membaca al-Quran, wirid, dan tidak tidur semalaman. Beliau tersebut berkata: “Tiada yang lebih saya sukai dalam hidup kecuali membaca kitab-kitab, untuk meningkatkan amal soleh dan mengejar ilmu-ilmu yang bermanfaat.”

Di antara buku-buku yang dibacakannya di hadapan ayah beliau adalah kitab Al-Ihyâ’. Beliau telah membacakan kitab itu kepada ayahnya sebanyak empat puluh kali. Pernah beliau keluar rumah, yang ketika itu beliau masih sebagai anak kecil, bersama putra pamannya Abu Bakar bin Abdullah al-Aydrus, menuju ke perkampungan an-Nu’air sesudah lewat tengah malam dengan tujuan hendak melakukan shalat tahajud. Maka, masing-masing mereka membaca sepuluh juz di dalam shalat. Lalu keduanya pulang ke rumah sebelum Subuh.

Sumber :
http://benmashoor.wordpress.com/2009/08/25/mujahadah-para-tokoh-alawiyin/
Ketika Rasulullah SAW Hadir . . .

PDF Print E-mail
Majelis yang berkah ditandai dengan kuatnya keinginan jama’ah untuk selalu hadir dan mendapatkan ilmu.

Pengajian Habib Abubakar bi Hasan Alatas merupakan pengajian yang cukup fenomenal di kota Depok. Pengajian yang rutinnya, yang diadakan setiap hari Ahad sore yang berlokasi di kediamannya, Jln Karya Bakti, Tanah Baru, selalu dihadiri ribuan jama’ah. Tanpa poster dan spanduk, hanya dari mulut ke mulut, tapi pengikutnya hampir semua usia dari wilayah Jabodetabek.

Habib Abubakar bin Hasan Alatas, yang telah 30 tahun berdakwah dari satu kota ke kota lain hampir di seluruh wilayah Indonesia, adalah habib senior yang disegani. Kiprahnya di wilayah Tanah Baru, kota Depok, baru dimulai setahun yang lalu dan langsung menjadi berkah bagi warga Tanah Baru.

Orang-orang dhuafa’ yang berada di sekitar tempat tinggal Habib Abubakar langsung merasakannya, mereka mendapat kemudahan dalam hal pengobatan dan bantuan modal usaha. Roda ekonomi penduduk langsung berdenyut karena setiap pengajian dibutuhkan sekian puluh ribu konsumsi yang semuanya dipesan dari para tetangga.

Pada Ahad 5 Juni yang lalu, dilakukan penutupan majelis, karena Habib Abubakar akan pergi ke Ternate dan daerah binaan lainnya yang tersebar di Indonesia Timur. Suasana berlangsung haru, Habib Abubakar minta dimaafkan dan didoakan agar perjalanannya ke Indonesia Timur diberkahi dan dilindungi oleh Allah SWT. Satu per satu jama’ah diberi kesempatan bersalaman.

Penutupan majelis pada sore hari itu memang dipenuhi dengan kesyahduan dan nuansa kehilangan. Ia pernah berucap, majelis yang selalu dirindui oleh jama’ahnya berarti Rasulullah SAW selalu hadir di majelis tersebut.

Ikhlas untuk Mengaji

Hampir setiap Ahad sore, seluruh peserta pengajian dengan khidmat dan tekun mendengarkan uraian yang disampaikan oleh Habib Abubakar. Ia menggunakan kitab tasawuf karangan gurunya, Habib Zain bin Smith, dan sudah dua kitab dikhatamkan.

Putranya, Habib Hasan bin Abubakar, membacakan kitab tersebut lalu ia menjelaskan paragraf demi paragraf.

Sebelum pembahasan kitab, diadakan taushiyah, yang secara bergiliran disampaikan oleh tiga atau empat ulama kota Depok. K.H. Abdurrahman Nawi, pemimpin Pesantren Al-Awwabin, juga sering memberikan taushiyah. Begitu juga K.H. Zainuddin, pemimpin Pesantren Al-Hamidiyah.

Dalam salah satu kesempatan Habib Abubakar pernah menguraikan ciri-ciri majelis yang berkah. Salah satunya, pesertanya merasa rindu akan datangnya hari digelarnya pengajian majelis tersebut. Sebagaimana dialami Ibu Anis, salah seorang murid Habib Abubakar, yang istiqamah mengaji, “Kita ingin saja agar cepat waktu ta’lim datang.” 

Keberkahan majelis juga dapat dilihat dengan begitu senangnya orang-orang datang dari berbagai penjuru, para tetangga dan aparat juga merasa senang melihat kampung mereka ramai didatangi orang, suara dzikir dan pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW bergema setiap saat.

Habib Abubakar tak pernah mempublikasikan atau membuat poster dan spanduk ihwal pengajiannya, karena ia yakin bahwa Allah SWT akan menggerakkan hati setiap orang yang ikhlas untuk mengaji.
Rendah hati dan tidak mau menonjol, itulah ciri Habib Abubakar, yang sudah kenyang dengan asam garam perjuangan dan cobaan dakwah.

Ketika alKisah membujuknya untuk melakukan wawancara khusus, ia menolak, dengan alasan tidak ingin menonjol. Tapi, karena pengalaman dakwah, keilmuan, dan ketokohannya begitu penting untuk diketahui umat, agar bisa dijadikan teladan dan pelajaran yang berharga, insya Allah, ke depannya Habib Abubakar bersedia diwawancarai.

Bermula dari Ujung Timur
Dalam suatu kesempatan setelah menguraikan beberapa keutamaan silsilah Baginda Rasulullah SAW, yang nasabnya sangat dijaga oleh Allah SWT, Habib Abubakar mengisahkan betapa ia digembleng begitu keras oleh orangtuanya untuk taat kepada aturan agama.

Kisahnya, Habib Abubakar, yang menuntut ilmu di tiga kota, yaitu Makkah, Tarim, dan Kairo, ketika kecil pernah mendapat uang di tengah jalan.

Sebagai anak kecil, ia merasa senang, karena dapat uang, yang mungkin tercecer. Lalu ia membeli makanan kesukaannya.

Sesampai di rumah, hal itu ia ceritakan kepada uminya.

Uminya marah besar, “Tak pantas jasadmu menerima barang yang tak jelas.”

Uminya mengganti uang yang didapat itu dan menyuruhnya menempatkan di mana ia menemukan sebelumnya.

Begitulah, dalam keluarga ia dididik dengan sebaik-baik didikan.

Habib Abubakar mengingatkan, barang yang meragukan (syubhat) saja, kita harus hati-hati, apalagi yang haram.

Setelah menuntut ilmu di Timur Tengah, Habib Abubakar memulai dakwah di daerah yang keras dan penuh tantangan, yaitu Papua. Tidak sedikit ujian, tantangan, dan ancaman yang diterimanya.
Lima tahun di Papua, ia pindah ke Ternate.

Setelah sekitar lima atau enam tahun, ia melanjutkan dakwah ke Ambon, Morotai, lalu pindah ke Makassar, kemudian menyeberang ke Kalimantan, Banjar.

Tak pelak lagi, di kawasan timur Indonesia nama Habib Abubakar sangat disegani dan disayangi.
Sebelum menetap di Tanah Baru, kota Depok, ia berdakwah di Surabaya.

Pada penutupan majelis hari Ahad, salah seorang muridnya, Habib Muhammad Assegaf, memimpin pembacaan Maulid Simthud Durar, ratusan muridnya khusus terbang dari Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa Timur, untuk menghadiri majelisnya. Dan tidak sedikit pula pejabat kota Depok, sipil dan militer, hadir di majelis tersebut.

K.H. Abdurrahman Nawi, yang menyampaikan taushiyah, mendoakan agar kepergian Habib Abubakar ke Ternate dan sekitarnya, kelak pulangnya bisa membawa bekal yang lebih banyak dan berkah bagi warga Depok. Ia mensyukuri, warga Depok mendapatkan guru yang sangat dalam ilmunya dan terpuji akhlaqnya serta teruji komitmen dakwahnya. “Mari kita berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar beliau selalu dijaga oleh Allah SWT dan pulang kembali ke Depok dengan selamat untuk terus menularkan ilmunya kepada warga Depok, yang sangat membutuhkan seorang guru besar seperti beliau,” ujar Kiai Abdurrahman Nawi dengan suara bergetar.

Tidak sedikit jamaah ta’lim yang menangis terharu ketika bersalaman dengan Habib Abubakar, mereka akan ditinggal dalam waktu yang cukup lama, karena majelis baru akan dibuka lagi pada 11 September 2011.

Sumber :
http://majalah-alkisah.com/index.php/berita-terhangat/877-ketika-rasulullah-saw-hadir
Ratu Penghuni Surga

PDF Print E-mail

“Pembawaan Fathimah begitu lembut, memiliki budi pekerti tinggi, ramah, sopan, murah hati, simpatik, terjaga dari hal-hal yang bathil dan haram. Sosok wanita sempurna untuk kita jadikan idola. Sehingga kelak kita mejadi pengikutnya di surga...."


Fathimah Az-Zahra binti Muhammad, Rasulullah SAW, wanita berparas jelita, memiliki wajah seindah namanya. Menurut riwayat Imam Ja’far Ash-Shadiq, Rasulullah SAW memberikan nama “Fathimah”, yang dalam bahasa Arab berarti “melindungi”, lantaran ia dan para pengikutnya akan dipelihara atau terlindungi dari api neraka.

Sementara nama belakangnya, Az-Zahra, dalam satu riwayat dijelaskan bahwa Jabir bertanya kepada Imam Ash-Shadiq, “Apakah artinya Zahra?”

Imam Ash-Shadiq menjawab, “Karena Allah SWT menciptakan Fathimah dari cahaya. Ketika cahaya Fathimah muncul, seketika itu juga langit dan bumi terang benderang dipenuhi cahayanya. Mata para malaikat terkesima melihatnya. Pada saat itu juga malaikat bersujud kepada Allah SWT dan berkata, ‘Wahai Tuhanku cahaya apakah ini?’

Allah SWT menjawab, ‘Ini adalah cahaya-Ku yang Aku letakkan kepada Fathimah dan dia dari cahaya-Ku. Aku ciptakan dia dari keagungan-Ku. Aku keluarkan dia dari sulbi kekasih tercinta-Ku, Muhammad. Dari cahaya ini, Aku ciptakan para imam yang akan berdiri menegakkan agama-Ku. Mereka akan memberi petunjuk kepada seluruh manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran agama-Ku. Aku akan menjadikan mereka khalifah di dunia setelah kekasih-Ku Muhammad SAW’.”

Riwayat lain menjelaskan, Abu Hasyim Ja’fari bertanya kepada Imam Hasan Askari, mengapa Fathimah diberi gelar Az-Zahra.

Imam Hasan Askari menjawab, “Karena wajah Fathimah bagi Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib, di pagi hari seperti matahari, di siang hari seperti bulan, dan di malam hari seperti bintang-bintang yang bersinar terang.”

Menurut beberapa riwayat, yang dimaksud cahaya tersebut yaitu cahaya maknawi, bukan sekadar cahaya materi. Dari perkataan Imam Ash-Shadiq bahwa Az-Zahra adalah cahaya-Nya, jelaslah bahwa yang dimaksud cahaya adalah cahaya maknawi, karena cahaya Allah SWT bukanlah cahaya materi. Kemudian juga dikatakan cahaya tersebut adalah ruh Sayyidah Fathimah yang suci dan bersih dari segala kotoran maknawi.

Sementara riwayat lain menjelaskan, cahaya Az-Zahra juga berupa cahaya materi, karena, pada saat Fathimah dilahirkan ke dunia, rumah-rumah di sekelilingnya diterangi oleh cahaya. Dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra adalah pembimbing dan pemberi petunjuk kepada jalan yang benar, sehingga kelak ia akan menjadi ratu kaum wanita penghuni surga.

Pembawaan Fathimah lembut, memiliki budi pekerti tinggi, ramah, sopan, murah hati, simpatik, terjaga dari hal-hal yang bathil dan haram. Fathimah sangat mirip dengan ayahnya, baik paras wajah maupun dalam hal kebiasaan amal shalih. Segala tindak-tanduknya sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga Allah SWT memberikannya kedudukan begitu istimewa di surga, yaitu sebagai “ratu kaum wanita penghuni surga”.

Ini dijelaskan dalam Al-Mustadrak dari riwayat Al-Hakim dengan sanad yang hasan, “Bahwa suatu ketika ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, ‘Sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga’.”

Demikian sepenggal ma’uizhah hasanah yang disampaikan Ustadzah Hj. Syarifah Halimah Alaydrus pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di MT Al-Kifahi Ats-Tsaqafi Kaum Ibu, Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu (26/3).

Sumber :
http://majalah-alkisah.com/index.php/berita-terhangat/884--ratu-kaum-wanita-penghuni-surga
Kalam Habaib
Kitab Al-Hikam
(Al Imam Al Habib Abdullah Al Haddad)
Fiqh Salaf
(Habib Syekh Abdullah Bafadhol)
Karangan Habib Muhammad BSA
(ayah dari Habib Umar bin Hafidz)
Karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki (Mekkah)
Kitab "Sabilal Adzkar"
(Al Imam Al Habib Abdullah Al Haddad)
 Kitab "Sholatul Muqorrobien"
(Al Imam Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr Al Jufri)


Assalamu 'Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarokatuh

Video Streaming Acara Akbar "Majelis Rasulullah"