Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Ya Rasulallah . . .

Majelis Ta'lim Ar Raudhah
 
sebagian nama kitab yang dipelajari dalam pengajian 
majelis ta’lim  musholla “arraudhah”
dibawah asuhan maha guru ayahanda guru sekumpul Martapura kal sel.
( Priode Sekumpul : 1989 – 2005 )


1.              Ihya Ulumuddin
2.              Tafsir al Munir (Maroh Labid)
3.              Kifayatul ‘Awam
4.              Kifayatul Atqiya
5.              Risalah Mu’awanah
6.              Tanbihul Mughtarrin
7.              Nashoihul ‘Ibad
8.              Nashoihuddiniyyah
9.              Sullamuttaufieq
10.           Syarh al ‘Aiyniyyah
11.           Al Arba’in Fi Ushuliddin
12.           Risalah Zadul Muttaqien
13.           Syarh Jauharotuttauhid
14.           Al Mursyidul Amin Ila Mau’izhotil Mu’minin
15.           Al Bayan Wal Mazid ala syarh Unsil Wahid Min Kalami Abi Madyan
16.           Al Mawaid Fi Syattal Fawaid
17.           Mawahibul Quddus Fi Manaqibi Ibn al Iderus
18.           Fathullah Arrahmanirrahiem Fi Manaqibi Qutb Al Ghauts Abdillah al ‘Iderus
19.           Ilzam Baba Robbik
20.           Al Hikam ( Athoillah Assakandari)
21.           Minhajul Abidin
22.           Riyadhushsholihin
23.           Al Hawasyil Madaniyah
24.           Risalah Fi Itsbati Wujudinnabi Fi Kulli Makan
25.           Arrisalah Annuroniyyah Fi Syarh Attawassulati Assammaniyyah
26.           Fathurrahman Bisyarh Risalati Arislan
27.           Risalah Wasilah
28.           Manaqib Al Waliyyul Akwan Assayyid Muhammad Ibn Abdul Karim Assamman
29.           Minhatul Akyas Fi Husnizhzhon Binnas
30.           Al ‘Ilmunnibros
31.           Kitab Shifat 20 Lil Habib Utsman Al Batawi
32.           Khuloshatuttashonif Fittashowwuf

Semoga segala amal baik dan karya ibadah dari Ayahanda Guru dalam memberikan bimbingan keilmuan dan tuntunan amaliyah senantiasa menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir di hadhratNYA.. 
Ridho dan Rahmat Ilahiyyah senantiasa menyertai kehidupan Ayahanda Guru di alam sana.. Amin Ya Robbal Alamin

Sumber: alisadikinchalidy.blogspot.com
Kasih Sayang Nabi kepada Ummatnya
Nabi Tidak Ridha Umatnya di Neraka 
 
Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, “Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?”

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam.
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. “Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?
Label: 0 komentar | | edit post
Hati yang Khusyu'
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz حفظه الله تعالى menyebut di dalam Irsyadatud Da’iyat (kumpulan pelajaran Habib Umar di Darul Zahra’):

Mengenai kesan dari sikap ikhhlas ini, para ulama bercerita tentang al-Imam al-Habib ’Abdullah bin Thohir al-Haddad, yang tinggal di Qaidun. Beliau adalah salah seorang guru kita yang sempat ditemui oleh ulama-ulama besar yang hidup di zaman ini.

Pada suatu acara maulid di Mekah, berkumpullah para ulama dari timur dan barat; Syam, Mesir, Suriah, Palestin, Hijaz, Maghribi dan lain-lain negara. Mereka semua berpidato. Setelah para ulama berpidato, mereka berkata kepada al-Habib ’Abdullah bin Thohir al-Haddad: Sekarang giliranmu, wahai Sayyid!

MasyaAllah, mereka yang dari Yaman, Hijaz, Mesir, Syam dan Maghribi telah berpidato, sudah memadai, jawab beliau.

Kami ingin mendengar pidatomu walaupun sedikit, desak mereka. Kata yang lain pula: Wahai Sayyid ’Abdullah, bukankah kau keluar dari rumah untuk berdakwah?

Al-Habib ’Abdullah bin Thohir al-Haddad bangkit lalu mengangkat kedua tangannya berdoa:

أللهم اهدنا فيمن هديت

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri petunjuk

Mendengar doa ini, semua hadirin menangis

وعافنافيمن عافيت

Berilah kami ‘afiat sebagaimana orang yang telah Kau beri ‘afiat

Suasana majlis dipenuhi dengan suara tangisan hadirin.

وتولنا فيمن توليت

Lindungilah kami sebagaimana orang-orang yang telah Kau beri perlindungan

Seorang ulama Mesir bangun lalu berkata: Lihat Sayyid ini, ia mengucapkan kalimat yang kita semua sudah tahu. Setiap hari kita mendengar dan berdoa dengannya [doa qunut]. Namun, kerana ucapan itu keluar dari hati yang shidq (benar) perhatikan kesan yang ditimbulkannya. Tadi ramai orang dari pelbagai negara telah berpidato. Mereka menceritakan keadaan umat-umat terdahulu, derita dan kesulitan yang mereka alami, tetapi tidak seorangpun menangis, dan kita tidak merasakan sedemikian khusyu’. Apa sebabnya? Perhatikanlah keikhlasan hati orang-orang sholeh. Cahaya yang terdapat di dalam hati mereka menyebabkan ucapannya meninggalkan kesan pada kita semua ...

Sumber: Manhaj Dakwah terjemahan Habib Novel Muhammad al-Aydarus, terbitan Putera Riyadi, cetakan pertama Dhulhijjah 1421/Maret 2001

Cerita-2
Habib Umar Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz حفظه الله تعالى menyebut di dalam Irsyadatud Da’iyat (kumpulan pelajaran Habib Umar
di Darul Zahra’). Beliau seterusnya menceritakan:

Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره dalam menyampaikan pengajiannya menggunakan bahasa yang sangat sederhana. Anak beliau yang telah banyak menuntut ilmu dan gemar menyampaikan ilmu berbisik di dalam hatinya: Jika aku diizinkan menyampaikan ilmu, tentu akan lebih banyak orang yang menangis.

Maka suatu hari Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره ingin mendidik anaknya, beliau berkata kepada anaknya: Wahai anakku! Berdirilah dan sampaikan syarahanmu. Anak beliau kemudiannya bersyarah dengan isi dan gaya yang bagus sekali. Namun tiada seorang pun yang menangis dan merasa khusyu’. Para hadirin bahkan merasa bosan mendengarnya. Setelah anaknya selesai bersyarah, Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله
سره naik keatas mimbar lalu berkata: Para hadirin sekelian, malam tadi isteriku ummul fuqaro’, menghidangkan ayam panggang yang sangat lazat, tiba-tiba seekor kucing datang dan memakannya.

Mendengar ucapan ini, para hadirin menangis dan menjerit. Anak beliau berkata: Aneh .... aku bacakan ayat-ayat al-Quran kepada mereka, hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم, syair dan pelbagai akhbar, tidak seorang pun yang menangis. Tetapi ketika ayahku menyampaikan ucapan yang tidak ada ertinya, mereka justru menangis. Sungguh aneh, apa sebabnya????

Habib Umar menyambung: Inti ceramah
(syarahan, ilmu) bukan terletak pada susunan kalimat tetapi pada kesucian hati dan sifat shidq (benar) orang yang berceramah (bersyarah, berbicara .. etc). Sewaktu Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله سره berbicara, para hadirin menangis kerana mengertikan ’kucing’ dalam kisah beliau itu dengan syaithan yang mencuri amal anak Adam dengan cara menimbulkan rasa riya’, ujub dan kibr (sombong). Ada yang menangis kerana mengibaratkan cerita itu dengan keadaan su’ul khatimah, yakni ia membayangkan seseorang yang memiliki amal yang sangat banyak, tetapi usianya berakhir dengan su’ul khatimah. Mereka menangis dan merasa takut kepada Allah hanya kerana ucapan biasa.Sesungguhnya dari ucapan itu telah membuatkan mereka berfikir, menerbitkan cahaya di hati mereka, berkat dari cahaya yang memancar dari hati Sayyidina ’Abdul Qadir al-Jailani قدس الله
سره ......

Sumber : Mailing List MR "Majelis Rasulullah"
Label: 0 komentar | | edit post

Assalamu 'Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarokatuh

Video Streaming Acara Akbar "Majelis Rasulullah"