Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad
Ya Rasulallah . . .
Habib Ahmad Al Ahdal ketika Mushofahah di Kubah Kelampayan
Telah bercerita Habib Ahmad al Ahdal
kepada kami beliau adalah seorang anak angkat abah Guru Sekumpul yang telah
diasuh dan dibesarkan oleh abah Guru Sekumpul dengan kasih sayang dan dengan
kelembutan pada waktu bayi hingga sekarang tumbuh menjadi orang yang gagah lagi
tampan dan berwibawa,.
Habib Ahmad al Ahdal berceritakan pengalaman beliau pada waktu beliau hidup serumah dengan Abah Guru Sekumpul ,kata Habib ahmad saya disini tidak menceritakan cerita2 yang ajaib yang terjadi apada abah Guru, !! Kerena para waliyullah itu,pasti jauh daripada sifat ujub, sum'ah, takabbur, riya, syrik dan lain sebagainya. Dan para waliyullah umumnya dan abah guru Sekumpul khususnya, beliau tidak pernah merasa memeiliki suatu karomah, kerna kemuliaan Dan kebesaran hanya milik Allah.. Kecuali mreka dalam keadaan kepepet dan itu pun atas izin Allah swt juga, disebabkan Allah Swt sangat mnyayangi mereka, maka dari itu Allah langsung yang menjaga mereka dan melindungi mereka.yang mau saya ceritakan dsini bukan masalah karamah seperti yang diatas tadi, akan tetapi ini adalah sesuatu yag melebihi daripada karamah2 tersebut, yg dinamakan istiqomah..
Sehubungan dengan istiqomah yang diatas.. saya melihat Abah Guru mengajar dengan isiqomahnya, Sewaktu beliau terbaring sakit dirumah, dan terbaring lemah dikasur beliau masih tetap mengajar.
Ada lagi, pada waktu tangan dan kaki beliau bngkak, waktu itu ada rombongan habib sekitar20 orang lebih yang dating dan Beliaupun menjamu para tamu habaib tersebut seolah-olah beliau tidak merasakan sakit sdikitpun ditangan dan kaki bliau pda wktu itu, namun setelah tamu pergi berlalu Beliau baru kesakitan, dan menundukkan wajah bliau serta memegangi tangan bliau dengan menybut nama Allaaah, Allaaah, Allaaaah..
Dan ada lagi waktu abah Guru mau ke majlis ada orang yg mau minta air untuk didoakan sama bliau, padahal abah guru sendiri tak mngenal siapa orang tersebut,dan Diwaktu tengah malam seperti biasa beliau bangun dan beliau sampai menangis berdoa bahkan terisak2, smpai2 bliau jatuh sakit. Lalu bsok nya adik bliau, Hj' Rahmah dn istri bliau mlarang orang2 untuk mnta air secara langsung kpada bliau kerna khawatir akan kesehatan beliau. Kerna setiap ada orang yg mau minta air, psti diberi sama beliau.
Namun malam nya beliau selalu menangis ditengah malam yang sunyi untuk mndoakan si fulan/ fulanah yg minta air tdi siang trsbut. Bhkan ada juga yang sampai bliau sakit kerna mndoakan orang yg minta air tadi. Padahal namanya saja beliau tidak tahu. Ada lagi pas sewaktu malam saya terkejut mendengar beliau menangis-menangis dengan terisak-terisak berdoa, smpai2 wajah bliau basah dengan airmata bliau . saya mendengar sedikit doa beliau pada waktu itu.. Subhaanallaah!! Klo tidak salah khilaf seperti ini doa Abah Guru Sekumpul..
“ (Yaa Allaaa, ampunii dosaaa2 murid2 uluun, keluarga uluun, anak bini ulun, anak2 angkat uluun, jiran2 uluun, dan semua ummat muslimin wa muslimat dimana pun mereka berada namun hati mreka mncintai ulun dan kluarga ulun..
Yaa Allaah, ampuni jua dosa-dosa orang-orang yang tidak menyukai ulun, orang memusuhi ulun, orang yang menyakiti hati ulun.. Ampuni jua dosa2 mreka smua, dan sampaikan kepada kkasih engkau ya'ni baginda nabi muhammad (Saw) untuk memberi syafaat nya terhadap mreka semua, kerna biarpun mereka membenci ulun, akan tetapi ulun ridho dengan mreka.
Jadi ulun berharap smua yg ulun sebutkan tadi, terutama diri uln ini. Matikan dalam keadaan husnul khotimah ya Allah, dan ulun mohon masukkan kami semua didalam sorga firdaus engkau bighairi hisaaab, dan trhadap orang yg membenci dngan diri ulun, ini tlong turunkan/ brikan rahmat engkau terhadap mreka, biar mreka bisa juga mrasakan keni'matansorga engkau, dn biarkan ulun brsahabat dengan mreka dsurga nanti. Krna uln ridhooo trhadp mreka)”
Doa ini masih panjng padahal, yang ini saja sudah membuat hati saya bersangatan malu,stiap brhadapan dengan abah.Maka saya melihat lngsung bagaimana kondisi abah pada wktu brdoa itu, Waktu itu abah dalam keadaan sakit keras,. yang pada saat itu yang bikin saya terharu menitikkan airmata pda wktu itu, beliau sama Sekali tidak berdoa untuk kesembuhan diri bliau,sama sekali beliau tidak menghiraukan penyakit beliau dan berdoa untuk kesembuhan beliau.hanya mendoakan anak muridnya selamat dunia akirat. Ridho dan ikhlas serta kecintaan yang tulus kepada anak muridnya dan orang2 islam itulah yang mendasari Abah Guru mendoakan seperti itu
.
kata Habib Ahmad al ahdal anak angkat yang dibesarkan oleh Abah Guru Sekumpul
saya berani menjadi saksi di yaumil Akhir nanti tentang kejadian yang penah saya lihat dan saya alami ini. Menutup cerita beliau tentang sifat dan keistiqomahan Abah Guru Sekumpul…
kata Habib Ahmad al ahdal anak angkat yang dibesarkan oleh Abah Guru Sekumpul
saya berani menjadi saksi di yaumil Akhir nanti tentang kejadian yang penah saya lihat dan saya alami ini. Menutup cerita beliau tentang sifat dan keistiqomahan Abah Guru Sekumpul…
cerita ini ulun dapat langsung dari Anak angkat abah Guru Habib Ahmad al ahdal di sebuah grup pencinta abah guru sekumpul.
Pertemuan Abah Guru sekumpul dgn
Habib Abdullah Baroqbah (Wali Majdzub)
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=371814636242316&set=o.132208280240512&type=1&theater
Ketika acara selamatan di rumah H. Ahmad Marzuki , tiba-tiba datang seorang Habaib yang menumpang sebuah becak, perawakan tubuh agak pendek adalah Habib Abdullah Baroqbah yang Majdzub . Sampai beliau di pintu rumah, beliau menanyakan : “Adakah di sini yang bernama Muhammad Zaini?” Waktu itu Guru Zaini masih di kamar al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan, yang letaknya bersebelahan dari rumah H. Ahmad Marzuki. H. Ahmad Marzuki menyampaikan kepada al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan bahwa Habib Abdullah Baroqbah mencari Guru Zaini ingin bertemu. Sehingga oleh Guru Zaini bertanya kepada al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan “Kiapa ni ulun kak, beliau lain orang kita, beliau (majdzub), lamun kita (salik).”??? “Tamui aja ikam ding ai, kasian sidin jauh-jauh datang handak betamu lawan ikam.” jawab al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan dan mengizinkannya untuk menemui Habib Abdullah Baroqbah tersebut.
Setelah pertemuan, maka Habib Abdullah Baroqbah, berseru “Marhaban, Marhaban Ahlan Wa Sahlan, ana sudah tujuh tahun menunggu enta, dan ana sudah beberapa kali sampaikan kepada Malakal Maut untuk menunda kematian ana, dengan berdo’a Mudahan ana tidak dimatikan kecuali sesudah bertemu enta.” Kata beliau lagi “Enta min Auliya illah, Enta min Auliya illah, Enta min Auliya illah.”
Sebenarnya antara Habib Abdullah Baroqbah dan Guru Zaini tidak pernah saling bertemu, namun pertemuan mereka hanya di dalam mimpi. Sesudah pertemuan itu, Habib Abdullah Baroqbah pun meminta diri untuk pulang, tanpa mengikuti acara selamatan tersebut. Dan Guru Zaini juga kembali ke tempat Guru Bangil.
Sesampainya di hadapan Guru Bangil, Guru Zaini berkata “Nah tebuka am aurat ka ai.” Dijawab oleh Guru Bangil “Kada papa ding ai, inya kada ikam jua nang membuka, tapi angin…kada papa sahut al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan. Mereka kemudian menuju acara selamatan bersama-sama.
Adapun Habib Abdullah Baroqbah tidak berapa lama sesudah bertemu dengan Guru Zaini, beliau akhirnya wafat, kembali keharibaan Allah.
*****
Pada tahun ini perjalanan haji dari Indonesia ditempuh dengan jalur udara dan jalur laut. Namun, perjalanan dengan menggunakan kapal laut merupakan hal yang lebih banyak dipilih, ini selain alasan ekonomi juga dengan cara ini jika beruntung mereka dapat tinggal lebih lama di Makkah, karena kapal laut biasanya berlayar jauh hari sebelum musim haji tiba, berkisar 1 ½ bulan, sebab mempertimbangkan halangan-halangan yang mungkin timbul selama perjalanan. Dengan pertimbangan ini pulalah kemudian Guru Zaini memutuskan bahwa keberangkatannya akan ditempuh lewat jalur laut.
Pada tahun ini perjalanan haji dari Indonesia ditempuh dengan jalur udara dan jalur laut. Namun, perjalanan dengan menggunakan kapal laut merupakan hal yang lebih banyak dipilih, ini selain alasan ekonomi juga dengan cara ini jika beruntung mereka dapat tinggal lebih lama di Makkah, karena kapal laut biasanya berlayar jauh hari sebelum musim haji tiba, berkisar 1 ½ bulan, sebab mempertimbangkan halangan-halangan yang mungkin timbul selama perjalanan. Dengan pertimbangan ini pulalah kemudian Guru Zaini memutuskan bahwa keberangkatannya akan ditempuh lewat jalur laut.
Hari Rabu tanggal 22 Desember 1971 bertolaklah rombongan Guru Zaini dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan menggunakan kapal “Lehapre Abeto”. Keberangkatan yang dilepas dengan pandangan haru dari al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru Syarwani Abdan beserta kerabatnya. Sebelumnya beliau juga telah menitip salam dan surat untuk Guru beliau Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Makki dan Habib Hasan Fad’aq.
Bulan telah memasuki musim penghujan namun hari itu langit terang, hanya terlihat beberapa awan tipis di angkasa yang menari-nari ditiup angin Desember. Dari dek pertama terlihat Guru Zaini melambaikan tangannya, wajah yang sumringah, yang terbayang di kalbunya hanyalah pertemuan dengan manusia yang selama ini selalu mengisi relung batinnya yang terdalam, yang namanya selalu ia ulang-ulang di kala jaga, yang selalu mengisi mimpi-mimpinya, manusia yang telah mengubah wajah dunia dengan ajaran rohaninya, Muhammad Sang Rasul, Kekasih Allah.
Moga dengan menceritakan para Aulia Allah kita mendapatkan Rahmat Allah SWT … Aamiin Allahumma Aamiin
Syekh Sekumpul datang melaksanakan haji
Biografi Syekh Ibnu Athoillah
Kelahiran dan keluarganya
Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah
Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin
Athoillah al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari
bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu
Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Yastrib bin Qohton, bangsa Arab
yang terkenal dengan Arab al-Aribah. Kota Iskandariah merupakan kota
kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan
kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun
kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan
menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia
dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.
Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili
-pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Athoillah
dalam kitabnya Lathoiful Minan Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika
aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau
mengatakan: “Demi Allah, kalian telah menanyai aku tentang suatu
masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya
tertulis pada pena, tikar dan dinding.
Keluarga Ibnu Athoillah adalah keluarga yang terdidik dalam
lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama
fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat
tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami.
Kota Iskandariah pada masa Ibnu Athoillah memang salah satu kota ilmu di
semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama
dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja
juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’Sholihin.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Athoillah tumbuh sebagai
seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya
terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya
secara terang-terangan tidak menyukainya.
Ibnu Athoillah menceritakan dalam kitabnya Lathoiful minan Bahwa
kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka
sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Athoillah yaitu
Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih
Iskandariah (Ibnu Athoillah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan
ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang
kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy
tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan
mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan
dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak,, aku
mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak
musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek
yang alim fiqih (kakek Ibnu Athoillah) demi orang yang alim fiqih ini.
Pada akhirnya Ibn Atho’illah memang lebih terkenal sebagai seorang
sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang
murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu
buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Athoillah menjadi tiga masa
:
Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari
ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari
para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh
pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena
kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Athoillah bercerita:
“Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi,
yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa
yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim
adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya.
Masa kedua
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru
pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan
gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan
kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’
tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati.
Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita
menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn
Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya
dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu
yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama
aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya,
melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya.
Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau
tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa
sejalan dengan tasawuf.
Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya
dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban,
keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi
yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan.
Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang
ada dalam hatiku”. Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya
tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam
lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi
sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan
seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun
demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah
mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.
Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku
al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.
Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini
tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya
IbnuNaasyi. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa.
Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku
dan berkata : “Tuanku, apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku
sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar
kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan
kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis
tanganmu akan sampai padamu juga”.
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk
diriku beliau berkata: Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin.
Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah
ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar
uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa
mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus
angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja
melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan
oleh Allah”.
Masa ketiga
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke
Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada
tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan
IbnuAthoillah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara
Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi
bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang
yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia.
Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan
kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan
suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri
dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.
Menurut Ibnu Athoillah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah
yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya
sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak
ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya
rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.
Ibnu Athoillah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H,
menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini
ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika
pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Athoillah berceramah di Azhar dengan tema yang
menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan
dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu.
Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol
kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Athoillah
adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri
oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati.
Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan
orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah
Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak
didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam
Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab Tobaqoh
al-syafiiyyah al-Kubro.
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak
karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh,
nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.
Beliaulah yg ahirnya mampu menyadarkan seorang yg di klaim sebagai
Imam para kaum wahabi/salafi yg dulunya sangat menentang sebagian
Kaum Shufi yaitu Imam Ibnu Taymiyyah, dari aqidah tajsim menjadi kembali
ke aqidah asy’ariyyah dan tidak lagi membenci kaum shufi.
Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan:
SyaikhKamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca
Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang
celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur
Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal tidak ada diantara kita yang
celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat
supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Athoillah ketika meninggal kelak.
Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah
satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn
Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam
Ibrahim, di Masa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada
teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung
terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang
puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing
spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid
menjawab : “Tuanku saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum
al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia.
Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti
menjawabnya.
Ibn Atho’illah wafat
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun
tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus
beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun
demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad
mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan
sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman
al-Qorrofah al-Kubro.
Assalamu 'Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarokatuh
Video Streaming Acara Akbar "Majelis Rasulullah"


