Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad
Ya Rasulallah . . .
Tampilkan postingan dengan label Atsar Sholihin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atsar Sholihin. Tampilkan semua postingan
DOA HUSNUL KHATIMAH AL IMAM AL QUTHBIR RABBANI AS SAYYID ABDULLAH BIN ALWY AL AHADDAD
Al Imam Al Quthb Al Habib Abdullah bin ‘Alwi Al Hadad berkata,
“Diantara yang menjadikan seseorang meninggal dunia dalam keadaan husnul
khotimah adalah, setiap selesai mengerjakan sholat Maghrib ia
mengucapkan,
استغفر الله الذي لا اله الا هو الحي القيوم الذي لا يموت و اتوب اليه رب اغفرلي
Astagfirulloohalladzii laa ilaa-ha illaa huwal Hayyul Qoyyuum alladzii laa yamuut wa atuubu ilaih, robbighfirlii
Kemudian dilanjutkan dengan membaca sholawat Husnul Khotimah berikut ini,
اللهم صل على سيدنا محمد و على اله وصحبه وسلم بعدد كل حرف جرى به القلم
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad in wa ‘ala aaliihi washohbihi wasallim bi’adadi kulli harfin jaro bihil qolam
Artinya: Yaa Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidina
Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya sebanyak bilangan huruf
yang digariskan oleh qolam.
Barangsiapa membaca semua itu
(setelah sholat Maghrib), sebelum mengucapkan yang lain, niscaya ia akan
meninggal dalam keadaan beriman.” Insyaa Allah. Wallahu A’lam.
Sumber :
(As Sayyid Al Habib Al ‘Alim Al Faqih Abdurrahman bin Muhammad bin
Husain bin Umar Al Masyhur Al Ba’alawi, dalam kitab Bughyatul
Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dhil A’immati minal ‘Ulama’ Al
Muta-akhkhirin)
TIGA DOA yang Jangan engkau lupakan dalam Sujudmu .
1. Mintalah di wafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah
١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة.
Allahumma inni as-aluka Husnal Khotimah.
Artinya : " Yaa Allah... Aku meminta kepadaMu Husnul Khotimah "
2. Mintalah agar kita diberikan Kesempatan Taubat sebelum wafat
٢. اللهم ارزقني توبة نصوحا قبل الموت
.Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal mauti.
Artinya: " Yaa Allah... Berilah aku rezeki Taubat Nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat "
3. Mintalah agar Hati kita ditetapkan diatas Agama-Nya
٣. اللهمّ يا مقلب القلوب ثبّت قلبي على دينك
Allahumma yaa Muqollibal Quluub tsabbit qolbii ala diinik.
Artinya: " Yaa Allah... Wahai Sang Pembolak Balik Hati.., Tetapkanlah Hatiku diatas AgamaMu"
Semoga bermanfaat
1. Mintalah di wafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah
١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة.
Allahumma inni as-aluka Husnal Khotimah.
Artinya : " Yaa Allah... Aku meminta kepadaMu Husnul Khotimah "
2. Mintalah agar kita diberikan Kesempatan Taubat sebelum wafat
٢. اللهم ارزقني توبة نصوحا قبل الموت
.Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal mauti.
Artinya: " Yaa Allah... Berilah aku rezeki Taubat Nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat "
3. Mintalah agar Hati kita ditetapkan diatas Agama-Nya
٣. اللهمّ يا مقلب القلوب ثبّت قلبي على دينك
Allahumma yaa Muqollibal Quluub tsabbit qolbii ala diinik.
Artinya: " Yaa Allah... Wahai Sang Pembolak Balik Hati.., Tetapkanlah Hatiku diatas AgamaMu"
Semoga bermanfaat
Doa ketika membasih anggota wudhu....
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
1. Doa ketika membasuh dua pergelangan tangan:
اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِيكَ كلها
Allohummahfidz Yadayya Min Ma a'syika Kulliha
Artinya: Ya Allah, peliharalah kedua tanganku daripada melakukan maksiat
kepadaMu.
2. Doa ketika berkumur:
اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allohumma a'inni 'Ala Dzikrika wa Syukrika wahusni 'Ibadatika
Artinya: Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan
bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.
3. Doa ketika membasuh hidung:
اَللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ
Allohumma Arihni Roihatal Jannati
Artinya: Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.
4. Doa ketika membasuh muka (setelah membaca niat wudhu dalam
hati):
اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ
وُجُوْهٌ
Artinya: Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah
dan hitamnya wajah-wajah.
5. Doa ketika basuh tangan kanan:
اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً
يَسِيْرًا
Allohumma A'thini kitabi biyamini wa hasibni hisaban yasiro
Artinya: Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan
hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.
6. Doa ketika membasuh tangan kiri:
اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ
ظَهْرِىْ
Allohumma Laa Ta'thini Kitabi bisyimali walaa min waro,i dzohri
Artinya: Ya Allah, janganlah beri kepadaku kitab amalanku dari sebelah
kiri atau dari sebelah belakang.
7. Doa saat membasahi kepala:
اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ
Allohumma harrim sya'ri wabasyari 'Alannari.
Artinya: Ya Allah, haramkan rambutku dan kulit kepalaku daripada
neraka.
8. Doa ketika membasuh dua telinga:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ
Allohummaj'Alni minalladzina yastami'unal Qoula fayattabi'una ahsanahu
Artinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar
ucapan yang baik dan mengikuti sesuatu yang terbaik.
9. Doa saat membasuh dua telapak kaki:
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ
اْلاَقْدَامِ
Allohumma Tsabbit Qodami 'Alaa Syirothika yauma tazillul Aqdam
Artinya: Ya Allah, tetapkan kedua kakiku di atas titian shirothol
mustaqim pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.
10. Doa setelah berwudhu:
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ
أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ
اْلمُتَطَهِّرِيْنَ وَصَلَى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu
baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya.
Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan
jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci. Dan selawat dan
salam kepada penghulu kami Muhammad, keluarganya, dan
sahabat-sahabatnya
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
1. Doa ketika membasuh dua pergelangan tangan:
اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِيكَ كلها
Allohummahfidz Yadayya Min Ma a'syika Kulliha
Artinya: Ya Allah, peliharalah kedua tanganku daripada melakukan maksiat
kepadaMu.
2. Doa ketika berkumur:
اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allohumma a'inni 'Ala Dzikrika wa Syukrika wahusni 'Ibadatika
Artinya: Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan
bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.
3. Doa ketika membasuh hidung:
اَللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ
Allohumma Arihni Roihatal Jannati
Artinya: Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.
4. Doa ketika membasuh muka (setelah membaca niat wudhu dalam
hati):
اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ
وُجُوْهٌ
Artinya: Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah
dan hitamnya wajah-wajah.
5. Doa ketika basuh tangan kanan:
اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً
يَسِيْرًا
Allohumma A'thini kitabi biyamini wa hasibni hisaban yasiro
Artinya: Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan
hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.
6. Doa ketika membasuh tangan kiri:
اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ
ظَهْرِىْ
Allohumma Laa Ta'thini Kitabi bisyimali walaa min waro,i dzohri
Artinya: Ya Allah, janganlah beri kepadaku kitab amalanku dari sebelah
kiri atau dari sebelah belakang.
7. Doa saat membasahi kepala:
اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ
Allohumma harrim sya'ri wabasyari 'Alannari.
Artinya: Ya Allah, haramkan rambutku dan kulit kepalaku daripada
neraka.
8. Doa ketika membasuh dua telinga:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ
Allohummaj'Alni minalladzina yastami'unal Qoula fayattabi'una ahsanahu
Artinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar
ucapan yang baik dan mengikuti sesuatu yang terbaik.
9. Doa saat membasuh dua telapak kaki:
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ
اْلاَقْدَامِ
Allohumma Tsabbit Qodami 'Alaa Syirothika yauma tazillul Aqdam
Artinya: Ya Allah, tetapkan kedua kakiku di atas titian shirothol
mustaqim pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.
10. Doa setelah berwudhu:
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ
أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ
اْلمُتَطَهِّرِيْنَ وَصَلَى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu
baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya.
Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan
jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci. Dan selawat dan
salam kepada penghulu kami Muhammad, keluarganya, dan
sahabat-sahabatnya
7 BACAAN DZIKIR PEMBUKA PINTU REZEKI : >>>
====================
1. Memperbanyak Membaca"Lahawla Wala Quwwata Illa billah" Barang siapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan "La hawla Wala Quwwata Illa billah." (HR. At-Tabrani)
2. Membaca "La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin" Barang siapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur. (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami)
3. Melanggengkan Ber-Istighfar"Barang siapa melanggengkan beristighfar niscaya Allah SWT akan mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan rezki dari arah yang tidak diduga²." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah)
4. Membaca Surat Al-Ikhlas"Barangsiapa mmbaca Surat Al-Ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya." (HR. At-Tabrani)
5. Membaca Surat Al-Waqiah"Barangsiapa membaca surat Al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman)
6. Memperbanyak Shalawat Atas Nabi "Ubay Bin Ka’ab meriwayatkan, bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Salallahu’alaih ¬ iwassalam berdiri seraya bersabda: "Wahai Manusia Berdzikirlah Mengingat Allah, berdzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat) pertama, kemudian diiringi tiupan kedua. Akan datang kematian dan segala kesulitan didalamnya."
7. "Membaca Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim. Dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu." (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat).
Semoga kita semua diberikan oleh Allah rezki dari arah yang tanpa di sangka-sangka. ....
Aamiin YRA.
====================
1. Memperbanyak Membaca"Lahawla Wala Quwwata Illa billah" Barang siapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan "La hawla Wala Quwwata Illa billah." (HR. At-Tabrani)
2. Membaca "La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin" Barang siapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur. (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami)
3. Melanggengkan Ber-Istighfar"Barang siapa melanggengkan beristighfar niscaya Allah SWT akan mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan rezki dari arah yang tidak diduga²." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah)
4. Membaca Surat Al-Ikhlas"Barangsiapa mmbaca Surat Al-Ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya." (HR. At-Tabrani)
5. Membaca Surat Al-Waqiah"Barangsiapa membaca surat Al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman)
6. Memperbanyak Shalawat Atas Nabi "Ubay Bin Ka’ab meriwayatkan, bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Salallahu’alaih ¬ iwassalam berdiri seraya bersabda: "Wahai Manusia Berdzikirlah Mengingat Allah, berdzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat) pertama, kemudian diiringi tiupan kedua. Akan datang kematian dan segala kesulitan didalamnya."
7. "Membaca Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim. Dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu." (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat).
Semoga kita semua diberikan oleh Allah rezki dari arah yang tanpa di sangka-sangka. ....
Aamiin YRA.
Diantara
karamah para Wali adalah mampu membantu keadaan orang yang terdesak. Ia
datang dari arah yang tak diduga dan membebaskan kesulitan yang menimpa
orang lain. Seperti yang terjadi pada Syeikh Saltuq Ash-Shubi dari
Turki. Satu waktu beliau tiba-tiba melepas bajunya dan mengibaskan
pedang kesana-kemari seolah beliau sedang berperang, bahkan darah yang
entah darimana datangnya banyak membasahi tubuh beliau. Namun beliau
tidak terluka sedikitpun. Kejadian ini berlangsung selama tiga jam dan
disaksikan banyak orang, termasuk oleh Sayyid Bahram Syah Al-Haidari,
seolah pembesar ulama zaman itu.Tujuh hari kemudian tibalah rombongan
Mujahid yang baru berperang melawan kaum kuffar. Mereka tidak pulang ke
rumahnya masing-masing, namun langsung menuju rumah Syeikh Saltuq dan
menjatuhkan diri di hadapan beliau. Mereka mengucapkan banyak syukur dan
terima kasih atas apa yang beliau lakukan.Rupanya kala mereka
berperang, mereka kewalahan karena jumlah musuh yang sangat besar,
hampir 1:3 antara jumlah mereka dan kaum kuffar. Ketika mereka terdesak,
tanpa diduga Syeikh Saltuq muncul dan menyerang musuh seorang diri
hingga menewaskan 2.000 orang lebih musuh. Sehingga jumlah kaum kuffar
dan pasukan Muslimin menjadi berimbang, 1.000 lawan 1.000, dan merekapun
akhirnya dapat memenangkan pertempuran.Tambahan;
Kisah-kisah seperti ini pernah terjadi juga dalam diri Sayyidina Umar bin Khattab, Muqaddam Ats-TsaniAl-Imam Abdurrahman Assegaf dan yang paling baru zaman ini ada Syeikh Nazim Addil Haqqani yang hadir memberikan pertolongan kepada para penambang yang terjebak di kedalaman700 meter di bawah di Chile. Setelah bebas, mereka menuturkan bahwa selama dua bulan lebih mereka terjebakdi dalam perut bumi, sehari-hari yang memberi mereka makan dan kekuatan ruhani adalah Syeikh Nazim.
Semua penambang itupun memeluk Islam. Peristiwa ini terjadi tahun 2010 silam.Rujukan : Buku Kisah Para Kekasih Allah terjemah kitab Jami Karamatul Aulya hal. 369 karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani
Ket. Foto : Syeikh Nazim sedang bersama para penambang Chile yang sengaja datang ke kediaman beliau dan memeluk Islam di tangan beliau.
Kisah-kisah seperti ini pernah terjadi juga dalam diri Sayyidina Umar bin Khattab, Muqaddam Ats-TsaniAl-Imam Abdurrahman Assegaf dan yang paling baru zaman ini ada Syeikh Nazim Addil Haqqani yang hadir memberikan pertolongan kepada para penambang yang terjebak di kedalaman700 meter di bawah di Chile. Setelah bebas, mereka menuturkan bahwa selama dua bulan lebih mereka terjebakdi dalam perut bumi, sehari-hari yang memberi mereka makan dan kekuatan ruhani adalah Syeikh Nazim.
Semua penambang itupun memeluk Islam. Peristiwa ini terjadi tahun 2010 silam.Rujukan : Buku Kisah Para Kekasih Allah terjemah kitab Jami Karamatul Aulya hal. 369 karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani
Ket. Foto : Syeikh Nazim sedang bersama para penambang Chile yang sengaja datang ke kediaman beliau dan memeluk Islam di tangan beliau.
TANGAN INI KELAK YANG AKAN MEMBAWAMU KE SORGA...
Dikisahkan ada seorang Ulama di Libanon yang termasyhur dizaman itu :
Al Imam Al Qodhy Syekh Yusuf bin Ismail An Nabhani yang menjabat sebagai
Qodhy (Hakim).
Suatu saat ia dihadapkan pada suatu kasus
pembunuhan...Dan saat persidangan berlangsung, didatangkan seorang
pemuda yang menjadi tersangka pembunuhan. Maka terjadi dialog antara
Syekh Yusuf An Nabhani selaku Qodhy dengan pemuda tersebut...
Syekh Yusuf bertanya, "Apa betul kamu telah melakukan pembunuhan? Dan
pemuda itupun menjawab, "Betul, aku telah membunuh seseorang wahai
Syaikh".
Lalu Syekh Yusuf berkata lagi, "Sekarang kau jelaskan
apa motif dari pembunuhan itu? Dan pemuda itupun menjawab, "Orang itu
telah menghina Rasulullah Saw terang-terangan...Aku tidak sanggup lagi
menahan amarah terhadap orang yang menghina dan mencaci Rasulullah Saw
dihadapanku dan langsung aku bunuh orang itu...!
Setelah
mendengar jawaban pemuda itu, Syekh Yusuf seorang hakim yang terkenal
adil dan bijaksana itu langsung terdiam dan bertanya lagi, "Tangan mana
yang kau gunakan untuk membunuh orang tersebut? Tangan kanan atau tangan
kiri? Dan pemuda itu menjawab, "Tangan kananku ini wahai Syaikh".
Tiba-tiba Syaikh Yusuf turun dari singgasana Hakim dan menghampiri
tempat duduk sipemuda dan meraih tangan kanan pemuda tersebut lalu
menciumnya berkali-kali, seraya berkata, "Tangan ini kelak yang akan
membawamu ke Sorga...Wahai hadirin sekalian, saksikanlah...Mulai hari
ini aku mengundurkan diri dari jabatanku selaku qodhy disini...Karena
aku tidak sanggup menghukum seseorang yang telah membunuh karena MEMBELA
KEHORMATAN RASULULLAH SAW...
Demikian wujud Cinta dan hormatnya
Syaikh Yusuf An Nabhani kepada Rasulullah Saw...Dan masih banyak kisah
orang-orang yang dengan caranya menjaga kehormatan Rasulullah Saw...
Lalu, dimana ghiroh kita...Bagaimana perasaan kita saat wahabi sesat mengatakan bahwa orang tua Rasulullah Saw masuk Neraka...?
Marilah kita teruskan da'wah Rasullullah Saw...Jadikanlah Rasullullah
bangga dengan kita...Marilah senantiasa kita tanamkan perasaan Cinta
kepada Allah Swt dan kepada Baginda Rasulullah Saw...
Allahuma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
HIKMAHNYA MENENGADAHKAN KEPALA KE LANGIT...
Allahuma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
Jika dalam hatimu terlintas bisikan buruk atau ajakan untuk bermaksiat, angkatlah kepalamu ke langit lalu ucapkan: "Allah…" dengan satu nafas.
Perbuatan ini akan membakar dan menghapus dengan seketika bisikan-bisikan buruk dalam hati.
Perbuatan ini akan membakar dan menghapus dengan seketika bisikan-bisikan buruk dalam hati.
Hikmah dari menengadahkan kepala ke langit adalah karena setan tidak dapat mendatangi manusia dari atas kepalanya.
Allah Ta’ala berfirman : “Kemudian Saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.(QS
Al-A’raf, 7:17).
Allah Ta’ala berfirman : “Kemudian Saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.(QS
Al-A’raf, 7:17).
Allah swt tidak mengatakan bahwa iblis akan mendatangi mereka dari atas.
Sumber : Group Bani AlawiyyinAllahuma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
CIUMAN RASULULLAH SAW KEPADA KEDUA CUCUNYA (SAYYIDINA HASAN DAN SAYYIDINA HUSEIN)
Dan rumah kecil yang penuh cahaya surgawi itupun pecah oleh tangisan .
Yaa Ahlul Bait Rasulullah...Shalawat dan salam untukmu wahai pemimpin pemuda di Surga...
Allahuma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
Dikisahkan, suatu saat Sayyidina Husein kecil mendatangi bundanya
(Sayyidatina Fatimah) sambil menangis ia berkata, "Bunda...Kakek
(Muhammad Saw) lebih mencintai kakakku, Hasan"
"Mengapa kau berkata demikian duhai anakku sayang?" ujar Sayyidatina Fatimah dengan penuh kelembutan.
Sayyidina Husein berkata, "Kakek sering mencium bibir Hasan dan hanya mencium leherku".
Akhirnya Sayyidatina Fatimah membawa kedua putranya kepada Rasulullah Saw dan menceritakan keluhan Sayyidina Husein...
Sembari menatap tajam dan lama...Rasulullah Saw berkata dengan penuh
kesedihan, "Fatimah anakku...Ketahuilah, aku selalu mencium bibir
Hasan...Kelak ia akan meninggal karena diracun oleh orang
terdekatnya...Dan engkau Husein...
Saat akan menceritakan tentang
cucu keduanya Husein...Rasulullah menatap Sayyidina Husein lama sekali
dan tak bisa meneruskannya lagi yang akhirnya Rasulullah pingsan
beberapa saat...Setelah siuman beliau kembali menatap wajah cucu
kesayangannya itu, dan berkata "Sedangkan engkau Husein...Selalu kucium
lehermu...Karena engkau akan syahid dengan leher terputus..."
Yaa Ahlul Bait Rasulullah...Shalawat dan salam untukmu wahai pemimpin pemuda di Surga...
Allahuma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
Adat Para Leluhur Ba'alawi
ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ ﺳﺎﺩﺗﻨﺎ ﺍﻝ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ
١١ ﻋﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺗﺮﺑﻴﺔ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ
Kebiasaan para pendahulu kita yaitu orang-orang Sholeh dari Keluarga Ba'alawi (semoga Allah meridhoi mereka).
Ada 11 kebiasaan Salaf dalam mendidik Anak-anak mereka:
١. ﺍﻻﻡ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺗﻘﺮﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺍﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ ﻭﺗﻜﺮﺭﻫﻤﺎ
Seorang Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi dan Al ikhlas, Al falaq ,An nas dan mengulang-ulang nya.
٢. ﺍﻭﻝ ﻣﺎﻳﻠﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻋﻨﺪ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻨﻄﻖ (ﺭﺿﻴﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺭﺑﺎ ﻭﺑﺎﻻﺳﻼﻡ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﺑﻤﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﺒﻴﺎ ﻭﺭﺳﻮﻻ)
Pertama kali yg diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara.
"Rodhitu billahi Robba Wa bil Islami diina Wa bimuhammadin sholla Allahu ‘alayhi wa sallam Nabiyyan wa Rosuula"
artinya (aku ridho Allah sbg Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad Nabi dan Rosulku )
٣. ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺑﺎﻷﻭﻻﺩ ﺍﻟﺼﻐﺎﺭ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻋﺎﺩﺓ
Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yg terakhir(sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
٤. ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﺔ ﻭﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﻨﻔﺤﺎﺕ ، ﻛﺸﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻳﺠﻤﻌﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﻭﻳﺴﻠﻮﻫﻢ ﻣﺎﺫﺍ ﺳﻴﻌﻤﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﺍﻟﺒﺮ ﻛﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ
Sebelum memasuki Bulan-bulan berkah seperti Ramadhon, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kpd mereka, apa yg akan kalian kerjakan dibulan yg berkah ini? dari amalan membaca Al Qur'an, dzikir,dan sedekah dll.
٥. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻬﻢ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ
Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yg baik sebagaimana mengajari mereka Surat Al Fatihah.
٦. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻘﺪﻭﻥ ﻣﺠﻠﺲ ﻋﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﻮﻣﻲ ﺍﻭ ﺍﺳﺒﻮﻋﻲ ﻳﻘﺮﺅﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ( ﺣﺰﺏ ) ﻭﻛﺘﺐ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ
ﻭﻳﺨﺘﻤﻮﻧﺔ ﺑﺎﻻﺩﻋﻴﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah, dan berkumpul semua yang ada dirumah, majlis harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dr alqur'an Al kariem(tadarus) dan kitab hadits serta fiqih
dan mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
٧. ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺑﻠﻮﻍ ﺍﺣﺪ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻪ ﺍﻧﻪ ﺑﻠﻎ ﻭﺍﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﻣﻜﻠﻒ ﻭﺍﻥ ﺍﻻﻥ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻠﻜﺎﻥ ﻳﺴﺠﻼﻥ ﺣﺴﻨﺎﺗﻪ ﻭﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ﻭﻳﻜﺘﺒﺎﻥ ﺍﻗﻮﺍﻟﻪ ﻭﺍﻓﻌﺎﻟﻪ ،ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺫﺍﻟﻚ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻭﺍﻟﻜﺒﺎﺭ
Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya klo sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yg dihadiri para ulama' dan orang orang sholeh.
٨. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻﻳﺆﺧﺮﻭﻥ ﺯﻭﺍﺝ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺧﻮﻓﺎ ﺍﻥ ﻳﻘﻌﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭ
Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh kawatir terjerumus kpd kemaksiatan.
٩. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻻﺣﻮﺍﻝ،
ﻓﺎﺫﺍ ﺍﺭﺍﺩ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺷﻲ ﻣﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻭ ﻭﺍﻟﺪﺗﻪ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻪ ﻗﻢ ﻭﺗﻮﺿﺎﺀ ﻭﺻﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻭﺍﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻀﻲ ﺣﺎﺟﺘﻚ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻳﺎﻋﻄﻮﻩ ﻣﺎﻃﻠﺐ ،ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻗﺪ ﺍﺳﺘﺠﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﻋﺎﻙ
Mereka mengajari anak-anak dgn berdoa memohon kpd Allah dlm setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dr orang tuanya, mereka berkata kpd anaknya wudhu'lah dan sholat 2 rokaat dan mintaklah kepada Allah hajat-hajatmu. dan setelah sholat orang tua memberikan yg anak minta seraya berkata Sungguh Allah yang mengabulkan doamu.
١٠. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺠﻌﻠﻮﻥ ﻟﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻋﻤﻞ ﻣﺨﺼﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻓﻬﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻻﻏﺮﺍﺽ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻨﺲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﺪﻣﺔ ﺍﻟﻀﻴﻮﻑ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻫﻜﺬﺍ
Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yg tugas belanja ke pasar, dan ada yg menyapu rumah dan ada yg tugas melayani tamu dan ngambil air dsb.
١١. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﺘﻤﻮﺍ ﺑﺘﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﺒﻨﺎﺕ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﻮﺭ ﻻﻧﻬﻦ ﺣﺒﻴﺴﺎﺕ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ .
Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka lebih serius dari anak laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.
يا آل باعلوي شفاعة
كل كربة تنجلي وبكم ياأهل الولاية
كل حاجة تنقضي
ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ ﺳﺎﺩﺗﻨﺎ ﺍﻝ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ
١١ ﻋﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺗﺮﺑﻴﺔ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ
Kebiasaan para pendahulu kita yaitu orang-orang Sholeh dari Keluarga Ba'alawi (semoga Allah meridhoi mereka).
Ada 11 kebiasaan Salaf dalam mendidik Anak-anak mereka:
١. ﺍﻻﻡ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺗﻘﺮﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺍﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ ﻭﺗﻜﺮﺭﻫﻤﺎ
Seorang Ibu ketika menyusui sambil membaca Ayat Kursi dan Al ikhlas, Al falaq ,An nas dan mengulang-ulang nya.
٢. ﺍﻭﻝ ﻣﺎﻳﻠﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻋﻨﺪ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻨﻄﻖ (ﺭﺿﻴﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺭﺑﺎ ﻭﺑﺎﻻﺳﻼﻡ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﺑﻤﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﺒﻴﺎ ﻭﺭﺳﻮﻻ)
Pertama kali yg diajarkan ke anak ketika baru bisa bicara.
"Rodhitu billahi Robba Wa bil Islami diina Wa bimuhammadin sholla Allahu ‘alayhi wa sallam Nabiyyan wa Rosuula"
artinya (aku ridho Allah sbg Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad Nabi dan Rosulku )
٣. ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺑﺎﻷﻭﻻﺩ ﺍﻟﺼﻐﺎﺭ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻋﺎﺩﺓ
Mengajak keluar anak-anak kecil ketika waktu malam yg terakhir(sebelum subuh) ke masjid agar menjadi kebiasaan.
٤. ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﺔ ﻭﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﻨﻔﺤﺎﺕ ، ﻛﺸﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻳﺠﻤﻌﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﻭﻳﺴﻠﻮﻫﻢ ﻣﺎﺫﺍ ﺳﻴﻌﻤﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﺍﻟﺒﺮ ﻛﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ
Sebelum memasuki Bulan-bulan berkah seperti Ramadhon, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kpd mereka, apa yg akan kalian kerjakan dibulan yg berkah ini? dari amalan membaca Al Qur'an, dzikir,dan sedekah dll.
٥. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻬﻢ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ
Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yg baik sebagaimana mengajari mereka Surat Al Fatihah.
٦. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻘﺪﻭﻥ ﻣﺠﻠﺲ ﻋﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﻮﻣﻲ ﺍﻭ ﺍﺳﺒﻮﻋﻲ ﻳﻘﺮﺅﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ( ﺣﺰﺏ ) ﻭﻛﺘﺐ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ
ﻭﻳﺨﺘﻤﻮﻧﺔ ﺑﺎﻻﺩﻋﻴﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah, dan berkumpul semua yang ada dirumah, majlis harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dr alqur'an Al kariem(tadarus) dan kitab hadits serta fiqih
dan mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.
٧. ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺑﻠﻮﻍ ﺍﺣﺪ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻪ ﺍﻧﻪ ﺑﻠﻎ ﻭﺍﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﻣﻜﻠﻒ ﻭﺍﻥ ﺍﻻﻥ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻠﻜﺎﻥ ﻳﺴﺠﻼﻥ ﺣﺴﻨﺎﺗﻪ ﻭﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ﻭﻳﻜﺘﺒﺎﻥ ﺍﻗﻮﺍﻟﻪ ﻭﺍﻓﻌﺎﻟﻪ ،ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺫﺍﻟﻚ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻭﺍﻟﻜﺒﺎﺭ
Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya klo sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yg dihadiri para ulama' dan orang orang sholeh.
٨. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻﻳﺆﺧﺮﻭﻥ ﺯﻭﺍﺝ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺧﻮﻓﺎ ﺍﻥ ﻳﻘﻌﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭ
Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh kawatir terjerumus kpd kemaksiatan.
٩. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻻﺣﻮﺍﻝ،
ﻓﺎﺫﺍ ﺍﺭﺍﺩ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺷﻲ ﻣﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻭ ﻭﺍﻟﺪﺗﻪ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻪ ﻗﻢ ﻭﺗﻮﺿﺎﺀ ﻭﺻﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻭﺍﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻀﻲ ﺣﺎﺟﺘﻚ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻳﺎﻋﻄﻮﻩ ﻣﺎﻃﻠﺐ ،ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻗﺪ ﺍﺳﺘﺠﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﻋﺎﻙ
Mereka mengajari anak-anak dgn berdoa memohon kpd Allah dlm setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dr orang tuanya, mereka berkata kpd anaknya wudhu'lah dan sholat 2 rokaat dan mintaklah kepada Allah hajat-hajatmu. dan setelah sholat orang tua memberikan yg anak minta seraya berkata Sungguh Allah yang mengabulkan doamu.
١٠. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺠﻌﻠﻮﻥ ﻟﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻋﻤﻞ ﻣﺨﺼﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻓﻬﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻻﻏﺮﺍﺽ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻨﺲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﺪﻣﺔ ﺍﻟﻀﻴﻮﻑ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻫﻜﺬﺍ
Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yg tugas belanja ke pasar, dan ada yg menyapu rumah dan ada yg tugas melayani tamu dan ngambil air dsb.
١١. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﺘﻤﻮﺍ ﺑﺘﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﺒﻨﺎﺕ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﻮﺭ ﻻﻧﻬﻦ ﺣﺒﻴﺴﺎﺕ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ .
Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka lebih serius dari anak laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.
يا آل باعلوي شفاعة
كل كربة تنجلي وبكم ياأهل الولاية
كل حاجة تنقضي
Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan
Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya
sebentar lagi datang. Mereka bertanya kepada ibunya,
"Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?"
Sayyidah Fathimah menjawab,
"sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit". Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yg sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.., Ketika malam tiba, ada yg mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, "siapa?"
Orang itu menjawab, "Wahai putri Rosulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra2mu". Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah....
Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah. Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka....
Kemudian Rosulullah SAW datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yg terdapat dalam bingkisan tsb.
Kemudian Rosulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dg penuh cinta dan kasih sayang.
Rosulullah SAW bertanya kpd Sayyidah Fathimah, "Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?"
Sayyidah Fathimah menjawab:
"Iya, aku melihatnya", Lalu Rosulullah SAW bersabda, "Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga..." Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rosulullah berbahagia dan bersedih jika mereka bersedih....
313 Senarai / daftar nama para sahabat yang terlibat dalam perang Badar
1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar al-Siddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Uthman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tolib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)
🌷🌹🌸سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله ،والله اكبر🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸للَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسلم🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸استغفر الله للمؤمنين و المؤمنات x27 ✨🌷🌹🌸
💞🌹🌻✨Darkah Yaa Ahlal Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha ✨🌻🌹💞
1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar al-Siddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Uthman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tolib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)
🌷🌹🌸سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله ،والله اكبر🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸للَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسلم🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸استغفر الله للمؤمنين و المؤمنات x27 ✨🌷🌹🌸
💞🌹🌻✨Darkah Yaa Ahlal Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha ✨🌻🌹💞
KAROMAH SULTHONUL DAROJATIL AULIYA’ SYAIKH ABU HASAN ASY SYADZILI
SAYYID ABU HASAN ASYADILI RA..
( THORIQOH SYADILIYYAH ).
KAROMAH AULIYA’ SYAIKH ABU HASAN ASY SYADZILI RA
Asy-Syadzili berkulit sawo matang, berbadan kurus, perawakannya tinggi, pipinya tipis, jari-jari kedua tangannya panjang, dan lidahnya fasih serta perkataannya baik.[1] Dia tidak terlalu membatasi diri dalam makan dan minum. Dia selalu mengenakan pakaian yang indah setiap kali memasuki masjid. Dia tidak pernah terlihat memakai baju-baju bertambalan sebagaimana yang dipakai oleh sebagian sufi, bahkan selalu mengenakan pakaian bagus. Dia menyukai kuda, memelihara, dan menungganginya. Dia selalu menasihatkan untuk bersikap moderat.[1]
SAYYID ABU HASAN ASYADILI RA..
( THORIQOH SYADILIYYAH ).
KAROMAH AULIYA’ SYAIKH ABU HASAN ASY SYADZILI RA
Abul Hasan Asy-Syadzili (bahasa Arab: أبو الحسن الشاذلي) (lahir
Ghumarah, Maroko, 1197 - wafat Humaitsara, Mesir, 1258) adalah pendiri
Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di
dunia. Ia dipercayai oleh para pengikutnya sebagai salah seorang
keturunan Nabi Muhammad, yang lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah,
daerah Maghreb (sekarang termasuk wilayah Maroko, Afrika Utara) pada
tahun 593 H/1197 M.
Sulthonul Auliya’ Syaikh Abul Hasan Asy
Syadzili ra adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak,
tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan
sebagian dari karomah beliau antara lain adalah :
1.Allah SWt
menganugerahkan kepada beliau kunci seluruh Asma-Asma, sehingga
seandainya seluruh manusia dan jin menjadi penulis beliau (untuk menulis
ilmu-ilmu beliau) mereka akan lelah dan letih, sedangkan ilmu beliau
belum habis.
2.Beliau adalah sangat terpuji akhlaqnya, sifat
mudah menolong dan kedermawanannya dari sejak usia anak-anak sampai
ketika umur enam tahun telah mengenyangkan orang-orang yang kelaparan
pada penduduk Negara Tunisia dengan uang yang berasal dari alam ghoib
(uang pemberian Allah secara langsung kepada beliau.
3.Beliau
didatangi Nabiyulloh Khidir as untuk menetapkan “wilayatul adzimah”
kepada beliau (menjadi seorang wali yang mempunyai kedudukan tinggi)
ketika beliau baru berusia enam tahun.
4.Beliau bisa mengetahui batin isi hati manusia
5.Beliau pernah berbicara dengan malaikat dihadapan murid-muridnya
6.Beliau menjaga murid-muridnya meskipun di tempat yang jauh
7.Beliau mampu memperlihatkan/menampakkan ka’bah dari negara Mesir
8.Beliau tidak pernah putus melihat/menjumpai Lailatul Qodar semenjak
usia baligh hingga wafatnya beliau. Sehingga beliau berkata : Apabila
Awal Puasa ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodarnya jatuh
pada malam 29, Awal Puasa pada hari Senin Lailatul Qodarnya malam 21,
Awal puasa pada hari Selasa Lailatul Qodarnya malam 27, Awal puasa pada
hari Rabu Lailatul Qodarnya malam 19, awal puasa pada hari Kamis
Lailatul Qodarnya malam 25, awal puasa pada hari jum’at maka Lailatul
Qodarnya pada malam 17, sedangkan bila awal puasa pada hari Sabtu maka
Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 23
9.Barang siapa yang
meninggal dan dikubur sama dengan hari meninggal dan dikuburkannya
beliau, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya
10.Doa Beliau Mustajabah (dikabulkan oleh Allah SWT)
11.Beliau tidak pernah terhalang sekejap mata pandangannya dari
Rasulullah saw selama 40 tahun (artinya beliau selalu berjumpa dengan
Rasulullah selama 40 tahun)
12.Beliau dibukakan (oleh Allah) bisa
melihat lembaran buku murid-murid yang masuk kedalam thoriqohnya,
padahal lebar bukunya tersebut berukuran sejauh mata memandang. Hal ini
berlaku bagi orang yang langsung baiat kepada beliau dan juga bagi orang
sesudah masa beliau sampai dengan akhir zaman. Dan seluruh
murid-muridnya (pengikut thoriqohnya) diberi karunia bebas dari neraka.
Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra sungguh telah digembirakan diberi
karunia, barang siapa yang melihat beliau dengan rasa cinta dan rasa
hormat tidak akan mendapatkan celaka.
13.Beliau menjadi sebab keselamatan murid-muridnya/pengikutnya (akan memberikan syafaat di akhirat)
14.Beliau berdo’a kepada Allah SWT, agar menjadikan tiap-tiap wali
Qutub sesudah beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan
thoriqohnya. Dan Allah telah mengabulkan Do’a beliau tersebut. Maka dari
itu wali Qutub sesudah masa beliau sampai akhir zaman diambil dari
golongan pengikut beliau.
15.Syaikh Abul Abbas Al Mursi ra
berkata : “Apabila Allah SWT menurunkan bala/bencana yang bersifat umum
maka pengikut thoriqoh syadziliyah akan selamat dari bencana tersebut
sebab karomah syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra”.
16.Syaikh
Syamsudin Al-Hanafi ra mengatakan bahwa pengikut thoriqoh syadziliyah
dikaruniai kemulyaan tiga macam yang tidak diberikan pada golongan
thoriqoh yang lainnya :
a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz
b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
17.Apabila beliau mengasuh/mengajar murid-muridnya sebentar saja, sudah akan terbuka hijab.
18.Rasulullah saw memberikan izin bagi orang yang berdo’a Kepada Allah
SWT dengan bertawasul kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili.
Asy-Syadzili berkulit sawo matang, berbadan kurus, perawakannya tinggi, pipinya tipis, jari-jari kedua tangannya panjang, dan lidahnya fasih serta perkataannya baik.[1] Dia tidak terlalu membatasi diri dalam makan dan minum. Dia selalu mengenakan pakaian yang indah setiap kali memasuki masjid. Dia tidak pernah terlihat memakai baju-baju bertambalan sebagaimana yang dipakai oleh sebagian sufi, bahkan selalu mengenakan pakaian bagus. Dia menyukai kuda, memelihara, dan menungganginya. Dia selalu menasihatkan untuk bersikap moderat.[1]
Sumber : “Tanwirul
Ma’ali manaqibi Ali bin Abil Hasan Asy Syadzili“ karya Syaikh Muhammad
Nahrowi (mbah Dalhar) bin Abdurrahman, Watu Congol, Muntilan – Magelang.
Ada
seorang yang berpaham Wahabi bertanya kepada al-Habib Umar bin
Hafidz.“Kenapa ziarah maqam Awliya (Para Wali Allah) ? sedangkan mereka
tiada memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada
Allah…!!!”Al-Habib Umar bin Hafidz lantas menjawab:“Benar wahai
saudaraku, aku juga sama pegangan denganmu bahwa mereka tiada mempunyai
kekuasaan apa-apa. Tetapi sedikit perbedaan aku dengan dirimu, karena
aku lebih senang menziarahi mereka karena bagiku mereka tetap hidup
dalam membangkitkan jiwa yang mati ini kepada cinta Tuhan.Tapi aku juga
heran, kenapa engkau tiada melarang aku menziarahi ahli dunia, mereka
juga tiada kuasa apa-apa. Malah mematikan hati. Yang hidupnya mereka
bagiku seperti mayat yang berjalan. Kediaman mereka adalah pusara yang
tiada membangkitkan jiwa pada cinta Tuhan.Kematian dan kehidupan di sisi
Allah adalah jiwa. Banyak mereka yang dilihat hidup tapi sebenarnya
mati, banyak mereka yang dilihat mati tapi sebenarnya hidup, banyak yang
menziarahi pusara terdiri dari orang yang mati sedangkan dalam pusara
itulah orang yang hidup.Aku lebih senang menziarahi maqam kekasih Allah
dan para syuhada walaupun hanya pusara, tetapi ia mengingatkan aku akan
kematian, kerena ia mengingatkan aku bahwa hidup adalah perjuangan,
karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kuasa cinta yang hebat sehingga
mereka dicintai oleh Tuhannya lantaran kebenarannya cinta.Wahai
saudaraku, aku ziarah maqam Awliya, karena pada maqam mereka ada cinta,
lantaran Cinta Allah pada mereka seluruh tempat persemadian mereka
dicintai Allah. Cinta tiada mengalami kematian, ia tetap hidup dan terus
hidup dan akan melimpah kepada para pencintanya.Aku berziarah karena
sebuah cinta mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikut mereka
dalam mujahadahku mengangkat tangan di sisi maqam mereka bukan meminta
kuasa dari mereka, akan tapi memohon kepada Allah agar aku juga dicintai
Allah, sebagaimana mereka dicintai Allah.”
PENJELASAN MENGENAI TABARRUK ( MENGAMBIL BAROKAH ) KEPADA NABI, PARA WALI DAN PARA ULAMA".
-------------------------- -------------------------- --
Tabarruk dengan gambar sendal Nabi Saw :
--------------------------
Tabarruk dengan gambar sendal Nabi Saw :
- Membawa gambar bentuk sandal Rasulullah SAW atau meletakkannya diatas kopiah memiliki beberapa faidah diantaranya :
"terkabulkannya semua hajat, mempermudah berziarah ke makam Rasulullah saw dan bermimpi bertemu Rasulullah saw, menyembuhkan sakit, menghilangkan kesusahan, dan faidah faidah lainnya, itu semua jika didasari dgn keyakinan yg teguh dan rasa cinta yg kuat kpd baginda Rasulullah Saw" (as syekh yusuf an nabhani dalam sa'adah ad darain)"
- jika Allah SWT memerintahkan nabi Musa untuk melepaskan sandalnya ketika ia menginjakkan kakinya di wadi muqoddas :
"lepas kedua sandalmu wahai musa,kau berada di lembah yg suci"(Qs thoha 12),tapi tidak dengan bagida Rasul Saw, sandal beliau tetap menjadi saksi ketika beliau menghadap Allah SWT di sidratul muntaha
- betapa mulianya sebuah sandal yg bergantung pada Rasulullah saw, bagaimana dengan hati yang selalu bergantung dan mengingat Rasulullah Saw ?
Bentuk Tabaruk Kepada Baginda Nabi Muhammad Saw :
Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw, peninggalan-peninggalannya
saw, ahlulbaitnya saw dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai
dan para wali. Karena hakekat yang belum mereka pahami, mereka berani
menilai kafir ( sesat ) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk
pada Nabi saw atau ulama.
Mengenai azimat ( Ruqyyat ) dengan huruf arab merupakan hal yg diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pd kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk ( mengambil berkah ) dari ayat ayat Alqur’an.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yg sejelas jelasnya,
"Bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yg sholeh". Maka sebagaimana diriwayatkan :
• Para sahabat seakan akan hampir saling bunuh saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no. 186)
• Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya SWT :
“(berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93),
Dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as) MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dg ucapannya :
PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA”.
Untuk apa disebutkan masalah baju yg dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yg pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yg shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.
• Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
• Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau :
“Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” ( shahih Bukhari hadits no.5413 ),
Ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami”
menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dg air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pd hakikatnya seluruh alam ini membawa keberkahan dari Allah swt.
• seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya :
“dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla ( Shahih Bukhari hadits no.1130 ).
• Nabi Musa as ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Nabi Musa as ingin dimakamkan dg mengambil berkah pada tempat suci ( shahih Bukhari hadits no.1274 ).
• Allah memuji Nabi Saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as ( bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yg dinamakan Maqam Ibrahim as ) sebagai tempat shalat ( musholla ), sebagaimana firman Nya :
“Dan mereka menjadikan tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” ( QS Al Imran 97 )
Maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Nabi Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
• Diriwayatkan ketika Rasul saw barusaja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata :
“aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689)
Demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
• Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra),
“Pergilah pada ummul mukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummul mukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra :
“Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328).
Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
• Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata :
“Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
• Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469).
Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.
• Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
• Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
• Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
• Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
• Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yg memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925).
Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw, Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi saw, Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad saw dan menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yg berebutan air pastur!
Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan. Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik.
Sebagimana sabda Nabi saw : “Kebekahan adalah pada orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559)
Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yg diriwayatkan dalam shahih muslim bahwa Rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yg dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dg nafas dan air liur yg telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir dzikir yg ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang Profesor Jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dg hanya diucapkan padanya kalimat kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yg didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.
Keajaiban alamiah yg baru diketahui masa kini, sedangkan Rasul saw dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yg menyentuh tubuh Rasul saw, mereka bertabarruk dg air doa yg didoakan oleh Rasul saw, maka hanya mereka mereka kaum muslimin yg rendah pemahamannya dalam syariah inilah yg masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yg jumud dan terbelakang.
Tabaruk Bukan Bid`ah.
-------------------------- --------
Suatu ketika Sayyid ‘Alawi bin Abbas al-Maliki Al Hasani Ra,duduk dalam halaqahnya di Masjidil Haram. Dan di lain sudut, duduk pula Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, pengarang sebuah kitab tafsir. Banyak pula orang yang sedang sholat dan bertawaf. Cuaca saat itu langit awan mendung sedang berarak. Kemudian hujan pun turun. Air hujan yang turun di atas Ka’bah mengalir keluar melalui saluran mizab [pancuran emas]. Kemudian jamaah yang duduk di halaqahnya Sayyid ‘Alawi al-Maliki banyak yang bergegas ke bawah mizab tersebut untuk mendapatkan air daripadanya. Lalu mereka membasahkan baju dan badan mereka dengannya sebagai mengambil berkah daripadanya.
Melihat hal itu, sekumpulan “Orang Badui” mencegah mereka karena menyangka melakukan perbuatan itu adalah syirik. Kata mereka: “Jangan, wahai orang-orang musyrik. Itu Syirik! Itu Syirik!”.
Lalu semua orang pun beredar dan menuju ke halaqah Sayyid ‘Alawi Al-Maliki. Mereka menanyakan tentang perkara tersebut pada beliau, dan jawaban dari Sayyid ‘Alawi Al-Maliki malah menganjurkannya sebab disitu ada keberkahan. Kemudian jamaah tadi pun pergi kembali ke mizab tersebut.
“Orang-orang badui” tadi pergi kepada halaqah Syaikh ‘Abdur Rahman dan mengadu kepadanya. Lantas beliau pun bangun dan pergi bertemu dengan Sayyid ‘Alawi. Maka berkumpul lah jamaah dari kedua kubu kepada dua orang ulama tersebut.
Kata Syaikh ‘Abdur Rahman: “Benarkah Anda mengatakan kepada orang-orang bahwa dalam air hujan tersebut ada berkah?”
Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: “Benar sekali. Bahkan, ada dua barokah..
Balas Syaikh ‘Abdur Rahman: “Bagaimana bisa demikian?”
Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki lagi:
“Sebab Allah SWT telah berfirman dalam kitab-Nya mengenai hujan : (ونزلنا من السماء ما ء مباركا) – Dan Kami turunkan daripada langit air yang diberkati, [Surat Qaaf: 9] – dan mengenai Ka’bah pula sebagaimana Allah SWT berfirman : (إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [Surat Ali ‘Imran: 96] -. Maka sekarang terkumpul dua barokah; yaitu barakah dari air hujan dan barakah baitullah ini.”
Mendengar itu, Syaikh ‘Abdur Rahman merasa takjub:
“Subhanallah! Bagaimana kami lupa akan hal ini? Lalu beliau pun berterima kasih kepada Sayyid ‘Alawi Al-Maliki dan meminta izin untuk keluar.”
Kemudian kata Sayyid ‘Alawi Al-Maliki:
“Nanti dulu, wahai Syaikh, tidakkah kamu lihat ‘orang-orang badui’ itu menyangka bahwa apa yang dibuat oleh banyak orang itu sebagai syirik? Mereka tidak berhenti mengkafirkan orang dan melontar mereka dengan tuduhan syirik, sehingga melihat orang yang seumpama Anda yang dapat mecnegah mereka. Pergilah ke mizab dan ambil air hujan tersebut di hadapan mereka agar mereka membiarkan orang-orang mengambilnya.”
Kemudian Syaikh ‘Abdur Rahman pun pergi ke mizab dan mengambil sendiri air hujan itu sebagai mengambil berkah.
Lihatlah Syeikhnya Orang-orang Badui Wahabi juga melakukan tabarruk, mengambil keberkahan dari air hujan dan baitullah kab’bah. Lalu bagaimana pula dengan sikap Orang-orang Badui Salafy Wahabi masa kini yang mengharamkan tabarruk? Menganggap musyrik orang yang bertabarruk. Kalaupun ada yang membolehkan tabarruk, membolehkannya hanya pada orang hidup saja.
* Catatan:
- Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki adalah ayah dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
- Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali diilahirkan di kota ‘Unaizah, Qashim sebuah daerah di Najd, Arab Saudi, pada tahun 1307H. Beliau wafat pada waktu fajar, hari Khamis, 23 Jumadil Akhirah 1376H. Diantara murid-murid beliau adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ; Syaikh Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam; Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’; Syaikh Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassam; Syaikh Muhammad al-Manshur az-Zamil; Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil;; Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil; Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali dan Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan.
"terkabulkannya semua hajat, mempermudah berziarah ke makam Rasulullah saw dan bermimpi bertemu Rasulullah saw, menyembuhkan sakit, menghilangkan kesusahan, dan faidah faidah lainnya, itu semua jika didasari dgn keyakinan yg teguh dan rasa cinta yg kuat kpd baginda Rasulullah Saw" (as syekh yusuf an nabhani dalam sa'adah ad darain)"
- jika Allah SWT memerintahkan nabi Musa untuk melepaskan sandalnya ketika ia menginjakkan kakinya di wadi muqoddas :
"lepas kedua sandalmu wahai musa,kau berada di lembah yg suci"(Qs thoha 12),tapi tidak dengan bagida Rasul Saw, sandal beliau tetap menjadi saksi ketika beliau menghadap Allah SWT di sidratul muntaha
- betapa mulianya sebuah sandal yg bergantung pada Rasulullah saw, bagaimana dengan hati yang selalu bergantung dan mengingat Rasulullah Saw ?
Bentuk Tabaruk Kepada Baginda Nabi Muhammad Saw :
Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw, peninggalan-peninggalannya
Mengenai azimat ( Ruqyyat ) dengan huruf arab merupakan hal yg diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pd kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk ( mengambil berkah ) dari ayat ayat Alqur’an.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yg sejelas jelasnya,
"Bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yg sholeh". Maka sebagaimana diriwayatkan :
• Para sahabat seakan akan hampir saling bunuh saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no. 186)
• Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya SWT :
“(berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93),
Dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as) MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dg ucapannya :
PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA”.
Untuk apa disebutkan masalah baju yg dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yg pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yg shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.
• Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
• Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau :
“Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” ( shahih Bukhari hadits no.5413 ),
Ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami”
menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dg air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pd hakikatnya seluruh alam ini membawa keberkahan dari Allah swt.
• seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya :
“dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla ( Shahih Bukhari hadits no.1130 ).
• Nabi Musa as ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Nabi Musa as ingin dimakamkan dg mengambil berkah pada tempat suci ( shahih Bukhari hadits no.1274 ).
• Allah memuji Nabi Saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as ( bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yg dinamakan Maqam Ibrahim as ) sebagai tempat shalat ( musholla ), sebagaimana firman Nya :
“Dan mereka menjadikan tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” ( QS Al Imran 97 )
Maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Nabi Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
• Diriwayatkan ketika Rasul saw barusaja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata :
“aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689)
Demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
• Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra),
“Pergilah pada ummul mukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummul mukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra :
“Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328).
Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
• Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata :
“Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
• Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469).
Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.
• Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
• Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
• Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
• Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
• Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yg memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925).
Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw, Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi saw, Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad saw dan menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yg berebutan air pastur!
Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan. Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik.
Sebagimana sabda Nabi saw : “Kebekahan adalah pada orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559)
Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yg diriwayatkan dalam shahih muslim bahwa Rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yg dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dg nafas dan air liur yg telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir dzikir yg ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang Profesor Jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dg hanya diucapkan padanya kalimat kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yg didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.
Keajaiban alamiah yg baru diketahui masa kini, sedangkan Rasul saw dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yg menyentuh tubuh Rasul saw, mereka bertabarruk dg air doa yg didoakan oleh Rasul saw, maka hanya mereka mereka kaum muslimin yg rendah pemahamannya dalam syariah inilah yg masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yg jumud dan terbelakang.
Tabaruk Bukan Bid`ah.
--------------------------
Suatu ketika Sayyid ‘Alawi bin Abbas al-Maliki Al Hasani Ra,duduk dalam halaqahnya di Masjidil Haram. Dan di lain sudut, duduk pula Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, pengarang sebuah kitab tafsir. Banyak pula orang yang sedang sholat dan bertawaf. Cuaca saat itu langit awan mendung sedang berarak. Kemudian hujan pun turun. Air hujan yang turun di atas Ka’bah mengalir keluar melalui saluran mizab [pancuran emas]. Kemudian jamaah yang duduk di halaqahnya Sayyid ‘Alawi al-Maliki banyak yang bergegas ke bawah mizab tersebut untuk mendapatkan air daripadanya. Lalu mereka membasahkan baju dan badan mereka dengannya sebagai mengambil berkah daripadanya.
Melihat hal itu, sekumpulan “Orang Badui” mencegah mereka karena menyangka melakukan perbuatan itu adalah syirik. Kata mereka: “Jangan, wahai orang-orang musyrik. Itu Syirik! Itu Syirik!”.
Lalu semua orang pun beredar dan menuju ke halaqah Sayyid ‘Alawi Al-Maliki. Mereka menanyakan tentang perkara tersebut pada beliau, dan jawaban dari Sayyid ‘Alawi Al-Maliki malah menganjurkannya sebab disitu ada keberkahan. Kemudian jamaah tadi pun pergi kembali ke mizab tersebut.
“Orang-orang badui” tadi pergi kepada halaqah Syaikh ‘Abdur Rahman dan mengadu kepadanya. Lantas beliau pun bangun dan pergi bertemu dengan Sayyid ‘Alawi. Maka berkumpul lah jamaah dari kedua kubu kepada dua orang ulama tersebut.
Kata Syaikh ‘Abdur Rahman: “Benarkah Anda mengatakan kepada orang-orang bahwa dalam air hujan tersebut ada berkah?”
Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: “Benar sekali. Bahkan, ada dua barokah..
Balas Syaikh ‘Abdur Rahman: “Bagaimana bisa demikian?”
Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki lagi:
“Sebab Allah SWT telah berfirman dalam kitab-Nya mengenai hujan : (ونزلنا من السماء ما ء مباركا) – Dan Kami turunkan daripada langit air yang diberkati, [Surat Qaaf: 9] – dan mengenai Ka’bah pula sebagaimana Allah SWT berfirman : (إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [Surat Ali ‘Imran: 96] -. Maka sekarang terkumpul dua barokah; yaitu barakah dari air hujan dan barakah baitullah ini.”
Mendengar itu, Syaikh ‘Abdur Rahman merasa takjub:
“Subhanallah! Bagaimana kami lupa akan hal ini? Lalu beliau pun berterima kasih kepada Sayyid ‘Alawi Al-Maliki dan meminta izin untuk keluar.”
Kemudian kata Sayyid ‘Alawi Al-Maliki:
“Nanti dulu, wahai Syaikh, tidakkah kamu lihat ‘orang-orang badui’ itu menyangka bahwa apa yang dibuat oleh banyak orang itu sebagai syirik? Mereka tidak berhenti mengkafirkan orang dan melontar mereka dengan tuduhan syirik, sehingga melihat orang yang seumpama Anda yang dapat mecnegah mereka. Pergilah ke mizab dan ambil air hujan tersebut di hadapan mereka agar mereka membiarkan orang-orang mengambilnya.”
Kemudian Syaikh ‘Abdur Rahman pun pergi ke mizab dan mengambil sendiri air hujan itu sebagai mengambil berkah.
Lihatlah Syeikhnya Orang-orang Badui Wahabi juga melakukan tabarruk, mengambil keberkahan dari air hujan dan baitullah kab’bah. Lalu bagaimana pula dengan sikap Orang-orang Badui Salafy Wahabi masa kini yang mengharamkan tabarruk? Menganggap musyrik orang yang bertabarruk. Kalaupun ada yang membolehkan tabarruk, membolehkannya hanya pada orang hidup saja.
* Catatan:
- Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki adalah ayah dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
- Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali diilahirkan di kota ‘Unaizah, Qashim sebuah daerah di Najd, Arab Saudi, pada tahun 1307H. Beliau wafat pada waktu fajar, hari Khamis, 23 Jumadil Akhirah 1376H. Diantara murid-murid beliau adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ; Syaikh Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam; Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’; Syaikh Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassam; Syaikh Muhammad al-Manshur az-Zamil; Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil;; Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil; Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali dan Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan.
Nabi Muhammad SAW bersabda ( tatkala beliau melihat ke arah gunung Uhud ) :
"Gunung ini mencintai kami dan kami pun mencintainya". ( shohih Bukhori )
Subhanallah...Bagaimana Rasulullah SAW tidak mencintainya, sedangkan gunung Uhud telah membawa namanya yang mulia.

Foto satelit telah mengungkap, bahwa bentuk gunung Uhud yg panjangnya hampir mencapai 7 km..
"Ternyata berbentuk seperti tulisan nama Nabi Muhammad SAW".
Shollu 'ala Nabiina
"Gunung ini mencintai kami dan kami pun mencintainya". ( shohih Bukhori )
Subhanallah...Bagaimana Rasulullah SAW tidak mencintainya, sedangkan gunung Uhud telah membawa namanya yang mulia.

Foto satelit telah mengungkap, bahwa bentuk gunung Uhud yg panjangnya hampir mencapai 7 km..
"Ternyata berbentuk seperti tulisan nama Nabi Muhammad SAW".
Shollu 'ala Nabiina
Multaqo ulama kalimantan ll banjarmasin 10 November 2015 Diakhiri
dengan live Streaming Al Habib Umar bin Hafidz langsung dari Darul
Musthofa Tarim
Pesan Al Habib Umar Bin Hafidz:
Melaksanakan kewajiban kewajiban yang diperintah Allah S.W.T dan
Memperhatikan sunnah sunnah yang telah disampaikan Nabi Muhammad S.A.W
Doa Al Habib Umar Bin Hafidz:
Mudah mudahan pondok pondok pesantren kalian
Majelis Majelis Kalian diberikan keberkahan oleh Allah S.W.T
Mudah mudahan apa yang kalian hajatkan dikabulkan Allah S.W.T
Mudah mudahan kita semua dikumpulkan dengan Nabi Muhammad S.A.W didalam surga tidak ada satupun yang tertinggal diantara kita terkecuali semuanya masuk didalam daerahnya Nabi Muhammad S.A.W
Mudah mudahan ada manfaatnya dan ada berkahnya
Mudah mudahan doa yang langsung dipanjatkan beliau dikabulkan Allah S.W.T
Aamiin

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
آمين...
Doa Al Habib Umar Bin Hafidz:
Mudah mudahan pondok pondok pesantren kalian
Majelis Majelis Kalian diberikan keberkahan oleh Allah S.W.T
Mudah mudahan apa yang kalian hajatkan dikabulkan Allah S.W.T
Mudah mudahan kita semua dikumpulkan dengan Nabi Muhammad S.A.W didalam surga tidak ada satupun yang tertinggal diantara kita terkecuali semuanya masuk didalam daerahnya Nabi Muhammad S.A.W
Mudah mudahan ada manfaatnya dan ada berkahnya
Mudah mudahan doa yang langsung dipanjatkan beliau dikabulkan Allah S.W.T
Aamiin

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
آمين...
Bayangkan sekarang kita ditempat ini ...
bersama mereka ...
mengemis kepada keagungan Allah yang Maha Sempurna
seperti inilah gambaran kita dimasa mendatang
berkumpul di padang mahsyar yang maha dahsyat.
tak ada seorang pun yang mampu berkata2
semua dalam keadaan takut.
terkecuali orang2 yang diberi rahmat oleh Allah.
hanya seorang makhluk saja yang dapat bermunajat kepada Allah yang Maha Perkasa pada saat itu.
beliau adalah penghulu kita, junjungan kita, pembela kita yaitu
Sayyiduna Muhammad Shollalloohu 'alaihi wa'ala aalihi wasallam.
Ya Allah...
kumpulkanlah kami bersama orang2 mulia disisi-Mu...
yaitu para kekasih-Mu...
terutama baginda kami Nabi Muhammad Shollalloohu 'alaihi wa'ala aalihi wasallam
bersama mereka ...
mengemis kepada keagungan Allah yang Maha Sempurna
seperti inilah gambaran kita dimasa mendatang
berkumpul di padang mahsyar yang maha dahsyat.
tak ada seorang pun yang mampu berkata2
semua dalam keadaan takut.
terkecuali orang2 yang diberi rahmat oleh Allah.
hanya seorang makhluk saja yang dapat bermunajat kepada Allah yang Maha Perkasa pada saat itu.
beliau adalah penghulu kita, junjungan kita, pembela kita yaitu
Sayyiduna Muhammad Shollalloohu 'alaihi wa'ala aalihi wasallam.
Ya Allah...
kumpulkanlah kami bersama orang2 mulia disisi-Mu...
yaitu para kekasih-Mu...
terutama baginda kami Nabi Muhammad Shollalloohu 'alaihi wa'ala aalihi wasallam
Keluasan Ilmu dan Akhlak Budi Pekerti di Negeri Seribu Wali, Tarim
Hadramaut, Yaman.
(Kisah Sulthonul Qulub Al Habibana Munzir bin Fuad Al
Musawa)
Saat saya ke Tarim hadramaut yaman, (1994-1998), saya
duduk hadir disuatu majelis yg penuh sarat dengan para ulama kelas satu,
disana ada empat mufti, saya tidak mengenal mereka karena baru datang
dari indonesia, karena halaqah sudah penuh padat, saya duduk dipaling
belakang, disebelah saya orang orang yg menyiapkan kopi dan suguhan
untuk para hadirin, disebelah mereka duduk seorang sepuh bertampang
biasa saja, saya mencium tangannya bukan karena apa apa, tapi karena ia
sudah sepuh, dan hati saya membatin, bahwa dia ini bukan ulama apa apa,
cuma sepuh saja, kalau dia ulama mestilah ia duduk dishaf depan atau
terdepan, bukan duduk disebelah tukang pembagi kopi dg gelas gelas yg
ribut dan air bertumpahan kemana mana. selepas majelis bubar, semua
orang berdesakan menyalaminya, termasuk ulama ulama sepuh yg dishaf
terdepan, saya bingung dan bertanya tanya, inikan cuma orang sepuh yg
duduk dipaling belakang, ternyata ia adalah Syeikh Fadhl ba fadhl,
pimpinan majelis para mufti di Tarim hadramaut, ia pimpinan mufti, namun
karena tawadhu dan rendah dirinya, ia tidak mau maju kedepan karena
datang terlambat, saya jadi sangat malu..
Assalamu 'Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarokatuh
Video Streaming Acara Akbar "Majelis Rasulullah"























