Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Qasidah Munajat Al Imam Al Quthb Habib Abdullah Al Haddad

Ya Rasulallah . . .

Tampilkan postingan dengan label Wanita Sholehah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita Sholehah. Tampilkan semua postingan
Indahnya penderitaan mereka (Ahlul Bayt) ?
Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang. Mereka bertanya kepada ibunya,

"Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?"
Sayyidah Fathimah menjawab,
"sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit". Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yg sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.., Ketika malam tiba, ada yg mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, "siapa?"

Orang itu menjawab, "Wahai putri Rosulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra2mu". Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah....

Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah. Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka....

Kemudian Rosulullah SAW datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yg terdapat dalam bingkisan tsb.

Kemudian Rosulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dg penuh cinta dan kasih sayang.

Rosulullah SAW bertanya kpd Sayyidah Fathimah, "Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?"
Sayyidah Fathimah menjawab:
"Iya, aku melihatnya", Lalu Rosulullah SAW bersabda, "Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga..." Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rosulullah berbahagia dan bersedih jika mereka bersedih....

Shollu AlanNabii Muhammad...

Ibu Para Wali di Tarim
Hababah Zainab Ummul Fuqoro’

Ketika terdengar sebutan nama Tarim pasti terlintas di benak setiap pendengarnya adalah para wali yang penuh dengan karomah yang sangat mengagungkan yang tumbuh sangat cepat dan banyak laksana rumput sebagai mana doa Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq.

Yang perlu kita ketahui dan tak boleh terlupakan adalah tanah subur tempat tumbuhnya para wali tersebut yaitu para wanita-wanita solehah yang mampu mencetak ksatria-ksatriasejati.

Tidaklah ada seorang wali kecuali terlahir dari pangkuan sang ibu. Karena ibu adalah penentu bagi seorang anak. Ibu adalah madrasah, darinyalah keluar para kesatria atau pecundang.

Begitulah yang terjadi pada para wali yang ada di kota Tarim mereka tidak terlepas dari peran para ibu. Dari agungnya para wanita di kota Tarim sampai di jadikan tempat untuk bertawassul.

Sebagian orang soleh berkata jika ingin berdoa, agar bertawasul pada wali yang ada di kota Tarim :

أدعوا باالسادات موطنهم تريم رجالهم وأطفالهم ثم حريم

“Memohonlah kalian pada Allah dengan bertawasul pada para pemimpin yang ada di kota Tarem baek para wali laki-laki atau anak anak atau bahkan wali perempuan karena semua mereka adalah para kekasih Allah” Subhanallah…

Taukah kalian siapakah ibu semua para wali yang ada di kota Tarim itu? Ia adalah seorang wanita yang mulia yang penuh cahaya penuh wibawaan yang lisannya di penuhi dzikir. Seorang wanita yang sangat terhormat dan disegani penduduk bumi maupun penduduk langit.

Seorang wanita yang dari pangkuanya mucul kesatria al-Baalawi. Seorang wanita yang namanya mampu menggetarkan orang yang mendengarnya. Seorang wanita yang penuh kecintaan pada orang fakir, walaupun ia seorang yang terhormat bahkan dari kecintaannya pada fakir miskin ia pun disebut di segala kalangan sebagai Ummul Fuqoro’, ibu bagi orang orang faqir.

Dia adalah Hababah Zaenab binti Ahmad bin Imam Muhammad Shohibul Mirbat bin Iman Ali Kholiq Qosam. Wanita yang berada di pusaran ilmu, akhlaq serta kewaliannya. Ayahnya seorang wali al-Habib Ahmad bin Muhammad Sohibul Mirbat. Para paman-pamannya juga wali diantaranya yaitu al-Habib Alwi bin Muhammad Sohibul Mirbat (datuk para wali songo).

Sedangkan suaminya adalah rajanya para wali. Semua para wali tunduk padanya bahkan yang dahulunya adalah guru, sekarang menjadi santrinya dan berkata ia adalah lautan ilmu yang amat luas dan tanpa tepi. Ia adalah Faqihil Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sohibul Mirbat, Al-faqihil Muqoddam kakek para ‘Alawiyyin pendiri Toriqoh sufi dan pendiri toriqoh al-Ba’alawi.

Sedang anak-anak dari Hababah Zaenab adalah para wali yang sangat mengagungkan. Kelima anaknya semua telah berhasil mencapai derajat yang tinggi di Sisi Allah.

1) Sayyidina Alwi al-Ghuyur (pecemburu). Beliau sangat cemburu jika ada yang namanya ‘Alwi di zamannya. Jika ada yang namanya ‘Alwi di zaman beliau maka tidak akan berumur panjang, bahkan jika ada orang yang niat bayinya akan lahir diberi nama Alwi tidak akan lahir kecuali jika sang ayah bayi merubah nama bayi tersebut.

Beliau pernah naik perahu nahkodanya namanya ‘Alwi. Ketika beliau tahu perahu tersebut berhenti, tidak bisa bergerak, Habib Alwi berkata, “Kalau kau rubah nama nahkodamu, perahu ini akan jalan jika tidak tak akan berjalan selamanya.”

Subhanallah…

Beliau Sayyidina Alwi juga di beri oleh Allah 3 keistimewaan :Jika berkata Kun atau jadilah maka akan terjadi dengan izin Allah. Menghidupkan dan mematikan dengan izin Allah. Dan Bisa mengetahui orang yang celaka atau orang beruntung.

Sampai ayah Beliau Sayyidina Faqihil Muqoddam berkata : “Wahai anakku Alwi apa yang kau liat di kening ayahmu.” Habib alwi : “Aku melihat di keningmu wahai ayah, beruntung…! beruntung..! Dan beruntung…!”

2) Ali 3) Abdurrohman 4) Abdullah 5) Ahmad

Hababah Zaenab adalah waliyah yang sangat di segani oleh para wali bahkan suami beliau al-Faqihil Muqoddam ketika di tanya, “Wahai Faqih begitu besar maqom yang kau miliki kepada siapakah engkau akan mewariskan dan siapakah kholifahmu.” Al-Faqihil Muqoddam menjawab : “Istriku Zaenab Ummul Fuqoro’ “

Oleh karena itu banyak sekali para salaf jika merasa salah pada Sayyidina Faqihil Muqoddam mereka ketika berziaroh mereka mendatangi Hababah Zaenab Ummul Fuqoro’ meminta belas kasih kemudian baru berziaroh pada Sayyidina Faqihil Muqoddam..

Hababah Zaenab juga seorang waliyah yang sangat kasaf. Ketika hujan mulai mengguyur daerah Demmun ( salah satu desa di pinggiran Tarem) semua orang berteriak dengan riang, “Demmun… Demmun…” yang artinya hujan malam ini akan lebat di desa Demmun jadi mereka bersiap siap mengatur ladang mereka agar aliran air masuk ke ladang meraka. Maklum di Tarem hujan sangat jarang. Hujan hanya 2 kali setahun sedang mereka mengambil air sangat jauh dan sulit.

Mendengar hal itu Syekh Abi Sho’ masih keluarga Hababah Zaenab bergegas keluar untuk menyiapkan jalan air menuju ladang nya. Ketika Syekh Abi Sho’ keluar Hababah Zaenab berkata : “Wahai Abi Sho’ kembalilah malam ini hujan deras buka di Demmun. Tapi di desa Gaidun. Ketika semua orang berteriak “Demmun demmun!” aku mendengar suara awan berkata ‘Gaidun Ghoidun”

Subhanallah.. ternyata malam itu yang hujan deras adalah desa Ghaidun. Padahal desa Goidun bisa di tempuh dengan perjalanan 3hari dari Tarem di masa itu.

Beliau Hababah Zaenab memiliki keledai yang bisa digunakan sebagai alat angkut Kurma dan barang lainnya. Subhanallah barokah menjadi keledai seorang wali keledainya pun punyak keistimewaan.

Hababah Zaenab berkata “Ketika suamiku al-Faqihil Muqoddam meninggal, aku mendengar kabar takziah langit dari keledaiku lebih banyak dari pada kabar takziah manusia di bumi.”

Subhanallah…

Beliau Hababah Zaenab Ummul Fuqoro’ hidup setelah meninggal nya sayyidina al-faqihil muqoddam kira-kira 16 tahun. Beliau Ummul Fuqoro’ meninggal pada hari Sabtu 12 Syawwal 699 Hijriyah.
Undangan Tabligh Akbar

Harumnya Bidadari Bumi

Wanita Yang Hati-Hati Dalam Beragama

Harumnya Bidadari BumiSuatu hari, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai kaum perempuan! Bersedekahlah kalian walau harus mengorbankan perhiasan kalian.” Mendengar perintah Rasulullah saw.  ini, seorang sahabat wanita segera pulang ke rumah menemui suaminya, Abdullah ibn Mas’ud, seorang sahabat Nabi terkemuka ahli qiraat Al-Qur’an

Siapakah istri Ibn Mas’ud yang ketika mendengar perintah Rasulullah segera pulang kerumah menemui sang suami itu? Ada gerangan apa dengan dia hingga harus pulang? Ya, dialah Zainab Ats-Tsaqafiyyah. Zainab merupakan tipe seorang wanita yang senantiasa bertanya tentang urusan agamanya kepada orang yang berhak memberikan fatwa. Marilah kita simak kisah wanita shalehah ini dalam salah satu penggalan hidupnya.

Setibanya di rumah, Zainab berkata kepada Abdullah ibn Mas’ud, “Engkau adalah seorang laki-laki sederhana yang tidak punya banyak harta. Sedangkan Rasulullah memerintahkan kepada kami  (kaum wanita) untuk bersedekah. Temuilah Beliau dan tanyakan kepadanya apakah boleh jika aku bersedekah kepadamu tidak kepada orang lain? Apabila tidak boleh, aku akan menyedekahkan kepada orang lain.”
“Engkau saja yang menemui Rasulullah!” saran Ibn Mas’ud

Lebih lanjut, Zainab menuturkan, “Maka, aku pergi menemui Rasulullah. Disana aku bertemu dengan seorang wanita Anshar yang sedang berdiri di dekat pintu rumah Beliau saw. Dia pun sama denganku, ingin bertanya tentang sabda yang Beliau sampaikan. Pada waktu itu, ada rasa segan dalam diri kami untuk menghadap Rasullullah. Namun, tiba-tiba Bilal keluar dari rumah Rasulullah.

Maka aku berkata kepada Bilal, “Tolong engkau temui Rasulullah dan sampaikan kepadanya bahwa dua orang wanita ingin bertanya kepada beliau, apakah bolehs eorang istri bersedekah kepada suaminya atau anak yatim yang diurusnya? Tetapi engkau jangan beri tau siapa kami”.

Lalu, Bilal pun masuk ke rumah Rasulullah dan menyampaikan pertanyaan kami itu. Sebelum menjawab, Rasulullah bertanya kepada Bilal, “Siapakah mereka berdua?”
Bilal menjawab, “Seorang wanita dari Anshar dan Zainab.”
Rasulullah bertanya lagi, “Zainab yang mana?”
“Istri Abdullah Ibn Mas’ud,” jawab Bilal.

Rasulullah bersabda, “Jika sedekah kepada suami atau anak yatim yang dipeliharanya, mereka mendapatkan dua pahala. Pahala kekerabatan dan pahala sedekah.” Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Demikianlah sikap Zainab Ats-Tsaqafiyyah ketika menghadapi setiap persoalan agama yang belum dia ketahui maksudnya. Dia senantiasa bertanya kepada Rasulullah saw. atau sahabat yang sudah lebih dahulu mengetahuinya. Wallahu a’lam.

Diambil dari :
Buku “Harumnya Bidadari Bumi”
Dapatkan di www.TamanBuku.com
Siapa Teladanmu ? Wahai Wanita ?
"Wajib bagi kita, para Wanita kita, Istri, Anak dan Saudari-saudari kita yang kecil maupun yang besar untuk tidak mengikuti ajaran kaum kafir. Janganlah mengikuti mereka dalam segala sesuatu. Baik cara berpakaian, adat perkahwinan, di dalam rumah serta cara keluar rumah. Siapakah yang kalian ikuti? Wahai Putri-putri dan Wanita Mukminah, siapakah yang kalian ikuti dan kalian jadikan contoh? Apakah kalian mengikuti orang kafir, yahudi, nasrani, para Wanita yang jauh dari jalan ALLAH!

Janganlah kalian sampai terjerumus, wahai Mukminah, wahai Muslimah, siapakah yang telah kalian contoh dan jalan siapa yang telah kalian ikuti? Dengan siapa kalian berteladan? Janganlah kalian menukar para teladan kalian! Apakah kalian akan menukar Sayyidah Ahlil Jannah dengan kaum kafir! Apakah kalian akan menukar Sayyidah Khadijah yang memperolehi Salam dari ALLAH, dengan kaum yang dilaknat ALLAH.

Apakah yang telah menimpa kita wahai Saudaraku? Berpikirlah secara benar dan serius. Perkara ini bukanlah sebuah lelucon, mainan ataupun guruaun. Ini perkara Agama yang berkaitan dengan Akhirat kita! Ini berkaitan dengan keadaan menjelang maut, di dalam kubur, di barzakh dan hari kebangkitan kelak.

Perkara Agama ini tergantung pada amal dan perbuatan kalian, adat, perkataan dan sikap kalian dalam kehidupan. Siapa suri tauladan kita?

Wahai Wanita, janganlah kalian berpakaian dengan pakaian yang ketat dan menampakkan bentuk tubuh, jangan bangga degan semua itu! Karena iu penyebab Kemurkaan ALLAH! Ini buktinya Sirah Sayyidah Fatimah Zahra رضي الله تعالى عنها telah terhapus dari benak kalian. Apakah kalian melihat diri kalian lebih agung dari beliau? Apa saja yang dipersiapkan RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم untuk perkahwinan Putri beliau? Dengan cara begitu, apakah turun derajat Sayyidah Fatimah az-Zahra رضي الله تعالى عنها? Di Akhirat nanti seluruh manusia, sejak awal penciptaan hingga akhir, akan menundukkan kepalanya saat beliau melewati shirath. Beliau akan berjalan bak cahaya yang bersinar terang. Ketika di padang Masyhar, akan terdengar suara dari `Arsy ALLAH, "Wahai manusia, tundukkan kepala kalian dan pejamkan mata kalian karena Fatimah binti Muhammad رضي الله تعالى عنها akan melewati shirath".

Apakah kalian tidak ingin berada di belakang beliau, lewat di shirath bersama beliau dan mengikuti beliau? Kalian telah menukar beliau dengan lainnya.

Wahai Mukminah ingatlah, karena peringatan itu sangatlah bermanfaat. Jauhilah adat-adat yang fana dan Dimurkai ALLAH tersebut, jauhilah sifat pamer. Sebagaimana dalam hadiths, RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Barangsiapa yang memakai pakaian untuk dipamerkan maka di Akhirat nanti akan dihinakan oleh ALLAH."

Janganlah berbangga dengan pakaian sutra dan emas. Sesungguhnya orang-orang kafir Diberi ALLAH kenikmatan dunia namun semua itu adalah kenikmatan yang fana. Mengikuti Fatimah az-Zahra رضي الله تعالى عنها adalah yang lebih mulia.

Ya ALLAH, Tanamkanlah di hati kami rasa cinta kepadaMU dan kepada RasulMU
Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Berilah Hidayah agar kami dapat mengikuti jalan
RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم, jalan Sayyidah Fatimah az-Zahra رضي الله تعالى عنها,
jalan `Ummahatul Mukminin dan jalan orang-orang yang Engkau Ridhai.
Dan Akhirilah usia kami dengan Husnul Khatimah. Amiin."

- Sedutan dari Kitab "Habib Umar bin Hafidz حفظه الله تعالى - Singa Podium".
Sayyidatina Ruqoyyah & Ummu Kultsum r.ha

Ruqoyyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma Kisah Perjalanan Dua Cahaya

2 cahaya Ruqoyyah dan Ummu Kultsum radhiallahu anhuma Kisah Perjalanan Dua Cahaya
Tumbuh beriringan bak dua kuntum bunga, berhias keindahan. Lepas dari belenggu ikatan, bertabur kemuliaan. Berlabuh di sisi kekasih nan dermawan, sang pemilik dua cahaya.

Lahir dua orang putri dari rahim ibunya, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza radhiallahu ‘anha. Menyandang nama Ruqayyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma, di bawah ketenangan naungan seorang ayah yang mulia, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelum datang masa sang ayah diangkat sebagai nabi Allah, Ruqayyah disunting oleh seorang pemuda bernama ‘Utbah, putra Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, sementara Ummu Kultsum menikah dengan saudara ‘Utbah, ‘Utaibah bin Abi Lahab. Namun, pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al-Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”
 
Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat dicampuri suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ganti yang jauh lebih baik. Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha disunting oleh seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.

Sebagaimana kaum muslimin yang lain, mereka berdua menghadapi gelombang ujian yang sedemikian dahsyat melalui tangan kaum musyrikin Mekkah dalam menggenggam keimanan. Hingga akhirnya, pada tahun kelima setelah nubuwah, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan jalan untuk hijrah ke bumi Habasyah, menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu membawa istrinya di atas keledai, meninggalkan Mekkah, bersama sepuluh orang sahabat yang lainnya, berjalan kaki menuju pantai. Di sana mereka menyewa sebuah perahu seharga setengah dinar.

Di bumi Habasyah, Ruqayyah radhiallahu ‘anha melahirkan seorang putra yang bernama ‘Abdullah. Akan tetapi, putra ‘Utsman ini tidak berusia panjang. Suatu ketika, ada seekor ayam jantan yang mematuk matanya hingga membengkak wajahnya. Dengan sebab musibah ini, ‘Abdullah meninggal dalam usia enam tahun.

Perjalanan mereka belum berakhir. Saat kaum muslimin meninggalkan negeri Makkah untuk hijrah ke Madinah, mereka berdua pun turut berhijrah ke negeri itu. Begitu pun Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha, berhijrah bersama keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selang berapa lama mereka tinggal di Madinah, bergema seruan perang Badr. Para sahabat bersiap untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha diserang sakit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk tetap tinggal menemani istrinya.

Ternyata itulah pertemuan mereka yang terakhir. Di antara malam-malam peristiwa Badr, Ruqayyah bintu Rasulullah radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya karena sakit yang dideritanya. ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu sendiri yang turun untuk meletakkan jasad istrinya di dalam kuburnya.

Saat diratakan tanah pekuburan Ruqayyah radhiallahu ‘anha, terdengar kabar gembira kegemilangan pasukan muslimin melibas kaum musyrikin yang diserukan oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. Kedukaan itu berlangsung bersama datangnya kemenangan, saat Ruqayyah bintu Muhammad radhiallahu ‘anha pergi untuk selama-lamanya pada tahun kedua setelah hijrah.

Sepeninggal Ruqayyah radhiallahu ‘anha, ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu ‘anhu menawarkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu untuk menikah dengan putrinya, Hafshah bintu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang kehilangan suaminya di medan Badr. Namun saat itu ‘Utsman dengan halus menolak. Datanglah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan kekecewaannya.

Ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihkan yang lebih baik dari itu semua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Hafshah radhiallahu ‘anha untuk dirinya, dan menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu dengan putrinya, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Tercatat peristiwa ini pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga setelah hijrah.

Enam tahun berlalu. Ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha kembali ke hadapan Rabbnya pada tahun kesembilan setelah hijrah, tanpa meninggalkan seorang putra pun bagi suaminya. Jasadnya dimandikan oleh Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib radhiallahu ‘anhuma. Tampak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah putrinya. Setelah itu, beliau duduk di sisi kubur putrinya. Sembari kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?” Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau, “Turunlah!”

Jasad Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha dibawa turun dalam tanah pekuburannya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid serta Abu Thalhah Al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai keduanya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber : ikhwanmuslim.or.id
Sayyidatina 'Aisyah r.ha

Biografi Siti Aisyah


Siti+Aisyah Biografi Siti Aisyah
Siti Aisyah memiliki gelar ash-Shiddiqah, sering dipanggil dengan Ummu Mukminin, dan nama keluarganya adalah Ummu Abdullah. Kadang-kadang ia juga dijuluki Humaira’. Namun Rasulullah sering memanggilnya Binti ash-Shiddiq. Ayah Aisyah bernama Abdullah, dijuluki dengan Abu Bakar. Ia terkenal dengan gelar ash-Shiddiq. Ibunya bernama Ummu Ruman. Ia berasal dari suku Quraisy kabilah Taimi di pihak ayahnya dan dari kabilah Kinanah di pihak ibu.

Sementara itu, garis keturunan Siti Aisyah dari pihak ayahnya adalah Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Umar bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Fahr bin Malik. Sedangkan dari pihak ibu adalah Aisyah binti Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abd Syams bin Itab bin Adzinah bin Sabi’ bin Wahban bin Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

Siti Aisyah lahir pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 Masehi, yaitu akhir tahun ke-5 kenabian. Kala itu, tidak ada satu keluarga muslim pun yang menyamai keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq dalam hal jihad dan pengorbanannya demi penyebaran agama Islam. Rumah Abu Bakar saat itu menjadi tempat yang penuh berkah, tempat makna tertinggi kemuliaan, kebahagiaan, kehormatan, dan kesucian, dimana cahaya mentari Islam pertama terpancar dengan terang.

Dari perkembangan fisik, Siti Aisyah termasuk perempuan yang sangat cepat tumbuh dan berkembang. Ketika menginjak usia sembilan atau sepuluh tahun, ia menjadi gemuk dan penampilannya kelihatan bagus, padahal saat masih kecil, ia sangat kurus. Dan ketika dewasa, tubuhnya semakin besar dan penuh berisi. Aisyah adalah wanita berkulit putih dan berparas elok dan cantik. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan Humaira’ (yang pipinya kemerah-merahan). Ia juga perempuan yang manis, tubuhnya langsing, matanya besar, rambutnya keriting, dan wajahnya cerah.

Tanda-tanda ketinggian derajat dan kebahagiaan telah tampak sejak Siti Aisyah masih kecil pada perilaku dan grak-geriknya. Namun, seorang anak kecil tetaplah anak kecil, dia tetap suka bermain-main. Walau masih kecil, Aisyah tidak lupa tetap menjaga etika dan adab sopan santun ajaran Rasulullah di setiap kesempatan.

Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah merupakan perintah langsung dari Allah, setelah wafatnya Siti Khadijah. Setelah dua tahun wafatnya Khadijah, turunlah wahyu kepada kepada Rasulullah untuk menikahi Aisyah, kemudian Rasulullah segera mendatangi Abu Bakar dan istrinya, mendengar kabar itu, mereka sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah setuju menikahi putri mereka. Maka dengan segera disuruhlah Aisyah menemui beliau.

Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah terjadi di Mekkah sebelum hjirah pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Ketika dinikahi Rasulullah, Siti Aisyah masih sangat belia. Di antara istri-istri yang beliau nikahi, hanyalah Aisyah yang masih dalam keadaan perawan. Aisyah menikah pada usia 6 tahun. Tujuan inti dari pernikahan dini ini adalah untuk memperkuat hubungan dan mempererat ikatan kekhalifahan dan kenabian.

Pada waktu itu, cuaca panas yang biasa dialami bangsa Arab di negerinya menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak perempuan menjadi pesat di satu sisi. Di sisi lain, pada sosok pribadi yang menonjol, berbakat khusus, dan berpotensi luar biasa dalam mengembangkan kemampuan otak dan pikiran, pada tubuh mereka terdapat persiapan sempurna untuk tumbuh dan berkembang secara dini.

Pada waktu itu, karena Siti Aisyah masih gadis kecil, maka yang dilangsungkan baru akad nikah, sedangkan perkawinan akan dilangsungkan dua tahun kemudian. Selama itu pula beliau belum berkumpul dengan Aisyah. Bahkan beliau membiarkan Aisyah bermain-main dengan teman-temannya. Kemudian, ketika Aisyah berusaha 9 tahun, Rasulullah menyempurnakan pernikahannya dengan Aisyah. Dalam pernikahan itu, Rasulullah memberikan maskawin 500 dirham. Setelah pernikahan itu, Aisyah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah.

Pernikahan seorang tokoh perempuan dunia tersebut dilangsungkan secara sederhana dan jauh dari hura-hura. Hal ini mengandung teladan yang baik dan contoh yang bagus bagi seluruh muslimah. Di dalamnya terkandung hikmah dan nasehat bagi mereka yang menganggap penikahan sebagai problem dewasa ini, yang hanya menjadi simbol kemubaziran dan hura-hura untuk menuruti hawa nafsu dan kehendak yang berlebihan.
Dalam hidupnya yang penuh jihad, Siti Aisyah wafat dikarenakan sakit pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 Hijriah. Ia dimakamkan di Baqi’. Aisyah dimakamkan pada malam itu juga (malam Selasa tanggal 17 Ramadhan) setelah shalat witir. Ketika itu, Abu Hurairah datang lalu menshalati jenazah Aisyah, lalu orang-orang pun berkumpul, para penduduk yang tinggal di kawasan-kawasan atas pun turun dan datang melayat. Tidak ada seorang pun yang ketika itu meninggal dunia dilayat oleh sebegitu banyak orang melebihi pelayat kematian Aisyah.

Sumber Asli:
- Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008
- Taman, Muslich. Pesona Dua Ummul Mukminin, Teladan Terbaik Menjadi Wanita Sukses dan Mulia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta. 2008
- Razwy, Syeda. A. Khadijah, The Greatest of First Lady of Islam. Alawiyah Abdurrahman (terj.). Mizan Publika: Jakarta. 2007
- an-Nadawi, Sulaiman. ‘Aisyah, The Greatest Woman in Islam. Firdaus (terj.). Qisthi: Jakarta. 2007
- asy-Syathi’, Aisyah Abdurrahman. Nisa’ an-Nabiy Alaihi ash-Shalatu wa as-Salam. Zaki Alkaf (terj.). Pustaka Hidayah: Bandung. 2001

Keutamaan Wanita
Keutamaan Bagi Kaum Wanita Cetak
Sebaik-baiknya perhiasan, Wanita Solihah
Suatu hari Rasulullah Saw menyempatkan diri berkunjung ke rumahFatimah Az Zahra. Setiba di kediaman putri kesayangannya itu, Rasulullah SAW berucap salam lalu masuk. Ketika itu beliau mendapati Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir (sejenis Gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rasul bertanya kepada putrinya. “Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.” Fatimah menjawab, “Wahai Rasulullah, penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkanku menangis.”

Kemudian duduklah Rasulullah Saw di sisi Fatimah. Lalu Fatimah melanjutkan. “Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku untuk mencarikan seorang jariyah (budak perempuan) untuk membantuku menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”

Maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput gandum, lalu diletakkannya tangan beliau di penggilingan seraya membaca “Bismillah.” Ajaib, dengan seizin Allah SWT penggilingan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT.” Maka penggilingan itu pun berhenti berputar. 

Lalu dengan izin Allah pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia, ”Ya Rasulullah, demi Allah yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Seandainya tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga ke barat pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT, “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan-Nya. Maka hamba takut, wahai Rasulullah, jika kelak hamba menjadi batu di neraka.” Lalu bersabdalah Rasulullah SAW, ”Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai Fatimah Az Zahra di dalam surga.” Maka bergembiralah penggilingan batu itu.

Lalu Rasulullah bersabda: ”Jika Allah menghendaki, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Tapi Allah menghendaki dituliskannya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskannya beberapa kesalahanmu. Dan diangkatnya beberapa derajat untukmu. Bila seorang wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya, Allah akan menuliskan baginya setiap butir gandum yang digilingkannya satu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.“

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya, ”Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat ketika wanita itu menggiling gandum untuk suami dan anaknya, Allah akan menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka, Allah akan mencatat pahalanya seperti memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya, Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar di hari kiamat.”

Rasulullah SAW masih meneruskan nasehatnya, ”Wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha, aku tidak akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah SWT, dan kemarahannya adalah kemarahan Allah SWT?”

“Apabila seorang wanita mengandung janin, maka beristighfarlah para malaikat. Dan Allah mencatat tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit karena akan melahirkan, Allah akan mencatatkan pahala baginya seperti pahala orang-orang yang berjihad. Apabila ia melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ibunya melahirkannya. Apabila ia meninggal dalam melahirkan, ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikit pun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan Allah mengaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristighfarlah seribu malaikat untuknya di hari kiamat.”

”Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar, Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya. Dan akan mengenakan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya, seribu kebaikan (setiap helai seribu kebaikan). Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah memandangnya dengan pandangan Rahmat.”

”Wahai Fatimah, bagi wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, maka berserulah para malaikat untuknya: ‘Teruskanlah amalmu, maka Allah telah mengampunimu dari dosa yang lalu maupun yang akan datang”

”Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, Allah akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan Allah akan menyelamatkannya dari api neraka, serta selamat dari titian Shirotul Mustaqim.” 

Dari Abdullah bin Amr Al Ash ra, Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah suatu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.”(HR. Muslim).
Ratu Penghuni Surga

PDF Print E-mail

“Pembawaan Fathimah begitu lembut, memiliki budi pekerti tinggi, ramah, sopan, murah hati, simpatik, terjaga dari hal-hal yang bathil dan haram. Sosok wanita sempurna untuk kita jadikan idola. Sehingga kelak kita mejadi pengikutnya di surga...."


Fathimah Az-Zahra binti Muhammad, Rasulullah SAW, wanita berparas jelita, memiliki wajah seindah namanya. Menurut riwayat Imam Ja’far Ash-Shadiq, Rasulullah SAW memberikan nama “Fathimah”, yang dalam bahasa Arab berarti “melindungi”, lantaran ia dan para pengikutnya akan dipelihara atau terlindungi dari api neraka.

Sementara nama belakangnya, Az-Zahra, dalam satu riwayat dijelaskan bahwa Jabir bertanya kepada Imam Ash-Shadiq, “Apakah artinya Zahra?”

Imam Ash-Shadiq menjawab, “Karena Allah SWT menciptakan Fathimah dari cahaya. Ketika cahaya Fathimah muncul, seketika itu juga langit dan bumi terang benderang dipenuhi cahayanya. Mata para malaikat terkesima melihatnya. Pada saat itu juga malaikat bersujud kepada Allah SWT dan berkata, ‘Wahai Tuhanku cahaya apakah ini?’

Allah SWT menjawab, ‘Ini adalah cahaya-Ku yang Aku letakkan kepada Fathimah dan dia dari cahaya-Ku. Aku ciptakan dia dari keagungan-Ku. Aku keluarkan dia dari sulbi kekasih tercinta-Ku, Muhammad. Dari cahaya ini, Aku ciptakan para imam yang akan berdiri menegakkan agama-Ku. Mereka akan memberi petunjuk kepada seluruh manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran agama-Ku. Aku akan menjadikan mereka khalifah di dunia setelah kekasih-Ku Muhammad SAW’.”

Riwayat lain menjelaskan, Abu Hasyim Ja’fari bertanya kepada Imam Hasan Askari, mengapa Fathimah diberi gelar Az-Zahra.

Imam Hasan Askari menjawab, “Karena wajah Fathimah bagi Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib, di pagi hari seperti matahari, di siang hari seperti bulan, dan di malam hari seperti bintang-bintang yang bersinar terang.”

Menurut beberapa riwayat, yang dimaksud cahaya tersebut yaitu cahaya maknawi, bukan sekadar cahaya materi. Dari perkataan Imam Ash-Shadiq bahwa Az-Zahra adalah cahaya-Nya, jelaslah bahwa yang dimaksud cahaya adalah cahaya maknawi, karena cahaya Allah SWT bukanlah cahaya materi. Kemudian juga dikatakan cahaya tersebut adalah ruh Sayyidah Fathimah yang suci dan bersih dari segala kotoran maknawi.

Sementara riwayat lain menjelaskan, cahaya Az-Zahra juga berupa cahaya materi, karena, pada saat Fathimah dilahirkan ke dunia, rumah-rumah di sekelilingnya diterangi oleh cahaya. Dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra adalah pembimbing dan pemberi petunjuk kepada jalan yang benar, sehingga kelak ia akan menjadi ratu kaum wanita penghuni surga.

Pembawaan Fathimah lembut, memiliki budi pekerti tinggi, ramah, sopan, murah hati, simpatik, terjaga dari hal-hal yang bathil dan haram. Fathimah sangat mirip dengan ayahnya, baik paras wajah maupun dalam hal kebiasaan amal shalih. Segala tindak-tanduknya sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga Allah SWT memberikannya kedudukan begitu istimewa di surga, yaitu sebagai “ratu kaum wanita penghuni surga”.

Ini dijelaskan dalam Al-Mustadrak dari riwayat Al-Hakim dengan sanad yang hasan, “Bahwa suatu ketika ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, ‘Sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga’.”

Demikian sepenggal ma’uizhah hasanah yang disampaikan Ustadzah Hj. Syarifah Halimah Alaydrus pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di MT Al-Kifahi Ats-Tsaqafi Kaum Ibu, Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu (26/3).

Sumber :
http://majalah-alkisah.com/index.php/berita-terhangat/884--ratu-kaum-wanita-penghuni-surga
Keistimewaan Sayyidah Khadijah Al-Kubro'

Keistimewaan-Keistimewaan Khadijah, Istri Tercinta Rasulullah Saw

Khadijah mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari ALLAH SWT disepanjang hidupNya.ALLAH SWT lah yang mengarahkan Khadijah untuk menjadi Teman hidup RasulULLAH SAW.ALLAH SWT pula yang memunculkan tekad dihatiNya untuk senantiasa membela,membangkitkan tekad dan mengobarkan semangat SuamiNya.ALLAH SWT yang menganugerahkan kepadaNya akal yang cerdas dan akhlak yang mulia.ALLAH SWT pula yang menjagaNya dari segala cela,sehingga Penduduk Makkah menjulukiNya dengan sebutan”Wanita Suci”.

Suatu hari,Malaikat Jibril mendatangi RasulULLAH SAW(ketika RasulULLAH SAW melakukan Uzlah di gua Hira,guna menyendiri serta menjauhi praktik penyembahan berhala dan kehidupan hedonis Makkah selama sebulan penuh setiap tahun)dan berkata “Wahai Muhammad,sebentar lagi Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukMu.Kalau Ia datang,sampaikan kepadaNya salam dari ALLAH SWT dan diriKu”.Cara Khadijah menjawab salam itu pun menunjukkan keluasan pandangan dan kedalaman perasaanNya,jawabanNya itu mengandung pengagungan terhadap ALLAH SWT yaitu Doa agar ALLAH SWT menganugerahkan kepadaNya kedamaian dan keselamatan serta salam untuk Jibril yang telah menyampaikan kepadaNya salam dari ALLAH SWT.Khadijah berkata kepada RasulULLAH SAW,”ALLAH SWT lah pemelihara kedamaian dan sumber segala damai,salamKu untuk Jibril”.

Khadijah merupakan Istri dan Sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur RasulULLAH SAW dalam setiap kesulitan.Karena itulah ALLAH SWT berkenan memberiNya kabar gembira tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untukNya di surga.RasulULLAH SAW bersabda,”Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira Kepada Khadijah,bahwa akan dibangun untukNya disurga sebuah rumah dari permata.Tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah disana”.ALLAH SWT juga berkenan untuk memberikan sebuah keistimewaan kepada Khadijah,yaitu hanya dariNyalah Anak Keturunan RasulULLAH SAW berasal(Merekalah Anak Cucu Muhammad Ibnu Abdillah dan Khadijah Binti Khuwailid).

Khadijah memberanikan diri untuk mendobrak tradisi Jahiliah dengan meminang langsung RasulULLAH SAW untuk diriNya sendiri.KeduaNya pun meNikah(ketika meNikah,RasulULLAH SAW berusia 25 tahun sementara Khadijah berusia 40 tahun),Khadijah berperan sebagai seOrang Istri yang setia,Sahabat yang penuh pengertian dan sekaligus Ibu yang penuh kasih sayang(RasulULLAH SAW tidak pernah menerima pengingkaran dan pendustaan yang menyakiti hatiNya,kecuali ALLAH SWT meringankanNya melalui Khadijah).Kehidupan rumah tangga Khadijah diliputi kebahagiaan,serta dilandasi oleh sikap Ikhlas dan prinsip saling menghormati.

Ketika Khadijah berusia 55 tahun hingga Ia meninggal dunia pada usia 65 tahun,kekuatan fisik dan kecantikan Khadijah semakin lama semakin pudar dimakan usia.Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah berubah didalam diriNya,kekuatan spiritual dan kejernihan cinta.Ia selalu dan selamanya beriman kepada ALLAH SWT serta meyakini kebenaran Risalah SuamiNya.Itulah sebabnya mengapa RasulULLAH SAW pada masa hidup Khadijah tidak pernah berpikir untuk meNikah dengan Wanita lain atau menjadikan Hamba Sahaya Wanita sebagai Istri.Begitu berarti Khadijah bagi RasulULLAH SAW hingga tidak ada seOrang pun yang bisa menggantikan posisiNya.

Setelah kepergian Khadijah(meninggal dunia)RasulULLAH SAW sering menyebut dan mengingatNya,juga kerap memuji dan mendoakan Khadijah.RasulULLAH SAW berkata,Aku dikaruniai oleh ALLAH SWT rasa cinta yang mendalam kepada Khadijah.”…Demi ALLAH SWT,Aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah.Ia yang beriman kepadaKu ketika semua Orang ingkar.Ia yang mempercayaiKu,ketika semua Orang mendustakanKu.Ia yang memberiKu harta,pada saat semua Orang enggan memberi.Dan dariNyalah Aku memperoleh Keturunan,sesuatu yang tidak Kuperoleh dari Istri-Istri Ku yang lain.Hadist Riwayat Ahmad”…

Di depan para SahabatNya,RasulULLAH SAW sering menyebut Khadijah sebagai Wanita paling utama dimuka bumi.Salah satu contoh gamblang yang menunjukkan betapa berarti Khadijah dihati RasulULLAH SAW,adalah sebuah peristiwa yang terjadi ditahun 8 Hijriah(11 tahun setelah wafatnya Khadijah)pada hari pembebasan Makkah,RasulULLAH SAW menunjuk Zubair Ibnu Awwam untuk memimpin sekelompok Pasukan Muhajirin dan Anshar.RasulULLAH SAW,menyerahkan panji Pasukan dan memerintahkan Zubair untuk menancapkannya di Hujun(sebuah dataran tinggi di Makkah).RasulULLAH SAW berpesan,”jangan tinggalkan tempat Engkau tancapkannya Panji ini,hingga Aku mendatangiMu”.Sesampainya di Hujun,Abbas Ibnu Abdil Muthalib berkata kepada Zubair disinilah RasulULLAH SAW memerintahkanMu untuk menancapkan Panji Pasukan.Dan ternyata,di Hujun itulah terletak Makam Khadijah(tempat yang dipilih RasulULLAH SAW,sebagai pusat komando dan pengawasan Pasukan Islam pada perang pembebasan Makkah).

[Dirangkum dari buku yang berjudul Khadijah The True Love Story Of Muhammad ]
Sumber : Sarah
Sifat Wanita2 di Tarim

Sifat Wanita – Wanita di Tarim Hadhramaut Yaman Selatan

(Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa)


Mau tahu bagaimana kehidupan para wanita di kota Seribu Wali, Tarim Hadramaut??? Di bawah ini ana kutipkan mengenai sedikit kehidupan mereka yang mungkin anda sulit untuk menemukan di wilayah lain.. Habib Munzir Al Musawa yang menceritakan mengenai kisah-kisahnya. Ini saya copy dari catatan FB Muhammad Syafii.

Selamat membaca. Semoga membawa manfaat..

Mengenai wanita di kota Tarim Hadramaut itu, jauh berbeda dengan sebagian besar wanita wanita muslimah di dunia, bahkan di wilayah wilayah lain di kota kota yang juga di Hadramaut pun sudah banyak yang pudar ketegasan syariahnya, wanita-wanita Tarim itu terbiasa dari sejak kecil dibesarkan di lingkungan ulama, siang malam mereka adalah obrolan majelis ilmu, alqur’an, adab, akhlak, tasawwuf, demikian mereka dibesarkan, mereka dibesarkan tidak kenal musik, tidak kenal kebiadaban, tidak kenal wajah orang fasiq, bahkan para wanitanya itu tidak pernah melihat lelaki selain kakaknya dan pamannya.

Saat mereka menikah, ketika ditanya pada istri “apa sih kesannya saat awal berjumpa?” ia menjawab : “saya bingung, seumur hidup saya belum pernah melihat lelaki selain kakak kandung saya, lalu ini ada lelaki asing duduk di kamar saya.”

Demikian keadaan mereka, mereka tak pernah menyusahkan suaminya, demikian pula suami pada istrinya, bila susu habis misalnya, atau beras, atau apa saja yang perlu dibeli, mereka tak berani bicara pada suaminya, karena takut suaminya sedang tidak ada uang, atau sedang sibuk, maka mereka taruh lah bungkus-bungkus kosong itu kira-kira di tempat yg sekiranya menyolok dan terlihat oleh suaminya.

Demikian pula suami, seluruh hajat pasar, sayur dan lainnya suami yang belanja, istrinya boleh-boleh saja keluar ke pasar kaum wanita, misalnya belanja baju, atau barang barang khusus wanita, kalau urusan dapur, sayur, beras dll itu tugas suami atau pembantu.

Istri selalu membuat kamar tidur wangi, bila suaminya pulang maka pastilah kamar sudah di tata rapih dan sangat wangi, pakaian suami sudah pasti wangi, kamar mandi wangi, semua ditata serapi mungkin.

Istri tak pernah mengangkat suara pada suami, tak pernah marah, tak pernah cemberut, bila mereka kesal mereka menangis dan mengadu pd suaminya dg lirih.. Itulah marah mereka. demikian pula suami, tak pernah marah pd istri, apalagi mencaci, bila sudah sangat kesal atas sesuatu, suami tulis surat pada istri lalu pergi atau tidur, nanti istri menjawab pula, lalu suami menjawab pula, akhirnya keduanya tertawa bersama.

Masih banyak lagi keunikan dan seni budi pekerti muhammad SAW dalam rumah tangga nabawiy yang sulit kita temukan di masa kini.
ALLAHU AKBAR . . . Indahnya percikan dari setetes Akhlak Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Ala Aalih Wasallam

Sumber: 


10 Karakter Wanita Sholehah

Muslimah shalihah yang berakhlak mulia memiliki beberapa karakteristik yang indah.

Pertama, bertakwa Kepada Allah SWT dan bisa menjaga dirinya, anak-anaknya, serta harta suaminya. Dalam Al Qur’an Allah Berfirman yang maksudnya,
“Sebab itu, Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dir ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah Memelihara mereka.” (Q.S An Nisa’:34)

Kedua, ia memiliki sifat sabar. Ia bersikap tabah dalam menghadapi berbagai persoalan. Bahkan ia pandai menghibur suaminya yang sedang di rundung masalah. Bukannya malah merunyamkan suasana.

Ketiga, senantiasa menjaga shalat 5 waktu. Sebagaimana maklum shalat 5 waktu adalah tiang agama. Muslimah yang menjaga shalatnya adalah sosok muslimah yang sendi-sendi keimanannya kokoh. Ia akan kuat menghadapi berbagai terpaan cobaan dan musibah. Muslimah seperti inilah yang bisa menjadi faktor kunci sukses suaminya.

Keempat, menjaga auratnya dengan baik. Ia tak mau keluar rumah kecuali seizin suaminya. Andaikata keluar, ia menutupi aurat yang menjadi kehormatannya serta suaminya. Allah SWT berfirman yang maksudnya, ” Hai nabi. Katakanlah kepada isteri-isteri mu, anak-anak perempuammu dan isteri-isteri orang beriman “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal. Karera mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al Ahzab, 59)

Kelima, taat kepada suaminya, menghormatinya, mencintainya, menyayanginya. Selalu menampakkan wajah yang menyenangkannya. Selalu memberikan dukungan kepada suami baik dalam urusan pekerjaan atau ibadah. Tidak menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepadanya. Tidak membicarakan aib-aibnya kepada wanita lain. Tak pernah ada niatan untuk menyakitinya. Ia senantiasa menlakukan perbuatan yang membuat ridha suaminya. Rasul SAW bersabda, “Tatkala seorang muslimah melaksanakan shalat 5 waktu, menunaikan puasa wajib dan mematuhi suaminya, maka ia akan memasuki surga Tuhannya.”

Keenam, bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebab mereka lebih dekat kepada anak-anak daripada suami yang lebih banyak keluar untuk bekerja. Seorang Muslimah Shalihah akan mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an, menanamkan rasa cinta kepada Nabi SAW beserta keluarganya. Mendampingi mereka melewati masa kanak-kanak dengan lembut dan penuh cinta, menjauhkan merekan dari akhlak tercela. Dan tak kalah pentingnya, mengajarkan mereka rasa hormat kepada ayahnya.

Ketujuh, mampu menasehati suami yang sedang lalai dari ibadah dengan cara yang santun dan bijak. Ia bisa mengambil hati suaminya sebelum mengingatkannya. Cara demikian lebih bisa di terima suami ketimbang cara-cara langsung yang akan memperburuk situasi.

Kedelapan, memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia tak mudah terpengaruh gaya hidup non islami yang sekarang ini gencar di budayakan oleh media massa. Sebagai muslimah ia harus tetap berpegang teguh pada ajaran Islam baik dari segi berpakaian, berprilaku dan lainnya. Ia pantang meniru lifestyle wanita non muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meniru gaya hidup suatu kaum, berarti ia termasuk golongan tersebut.”

Kesembilan, ia mampu menjaga penglihatannya dan kehormatannya. Ia tak mau memandang laki-laki selain suaminya. Kehormatannya di jaga mati-matian demi suaminya. Ia bersolek hanya untuk suaminya. Ini merupakan gambaran Bidadari Syurga. Allah SWT berfirman.. Yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An Nuur:31)

Kesepuluh, bersikap wara’. Ia tak mau mengkonsumsi makanan-makanan yang haram ataupun yang syubhat. Demikian pula ia menjaga suami dan anak-anaknya dari hal tersebut. Ia faham betul bahwa dari makanan yang baik dan halal akan lahir pula kepribadian-kepribadian yang baik. “Kuatnya agama adalah sikap wara’.” demikian sabda Nabi SAW.

Demikian sebagian karakteristik muslimah yang shalihah. Dengan karakteristik tersebut ia akan menampakkan kecantikan bathin yang akan abadi dan takkan lapuk oleh penuaan seperti halnya kecantikan jasmani.

Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan perhiasan yang terindah adalah wanita yang shalihah.”

Wallahu A’laam..
Di rangkum dari Majalah Dakwah Cahaya Nabawiy Edisi No.62 th.VI Jumadil Awwal 1429 H / Juni 2008 M.


Untuk Para Ibu

KATA BIJAK UNTUK PARA IBU


Jika anak dibesarkan dalam kecaman, ia akan belajar menyalahkan
Jika anak dibesarkan dalam permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, ia akan menjadi penakut di masa depan
Jika anak dibesarkan dalam belas kasihan, ia akan belajar menyesali dirinya
Jika anak dibesarkan dalam olok-olokan, ia akan menjadi pemalu
Jika anak dibesarkan dalam kecemburuan, ia akan belajar iri hati
Jika anak dibesarkan dalam aib, ia akan belajar merasa bersalah


Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia akan belajar bersabar
Jika anak dibesarkan dalam dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia akan belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dalam restu dan persetujuan, ia akan belajar menyukai dirinya
Jika anak dibesarkan dalam penghargaan, ia akan belajar memiliki cita-cita
Jika anak dibesarkan dalam suasana saling memberi, ia akan belajar murah hati
Jiak anak dibesarkan dalam kejujuran dan keadilan, ia akan belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia akan belajar mempercayai orang-orang sekitar
Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, ia akan mengetahui bahwa hidup ini menyenangkan
Jika anak dibesarkan dalam ketentraman, ia akan belajar memiliki pikiran yang damai

Wahai ibu...
Dalam keadaan bagaimanakah anakmu dibesarkan??
Syarifah Fatma (Keramat Petogogan)

SYARIFAH FATMA BINTI ABDULLAH AIDID ( KRAMAT PETOGOGAN )


Sekitar tahun 1700 M atau 1100 H didaerah yang sekarang bernama Kebayoran Baru, hiduplah seorang tuan tanah yang Bernama Saimun. Dia mempunyai seorang putri yang bernama Sakinah. Pada suatu waktu Saimun jatuh sakit dan dia telah berupaya dengan berbagai cara untuk mengobati penyakitnya. Kemudian dia membuat nazar akan menikahkan putrinya kepada orang yang dapat mengobati penyakitnya.

Adalah seorang laki-laki yang datang dari negeri Hadromaut, Yaman yang merantau ke negeri Indonesia khususnya Jakarta untuk menyebarkan Agama Islam kepada penduduknya, Beliau bernama Habib Abdullah bin Muhammad Aidid yang merupakan masih keturunan daripada Nabi Muhammad SAW. Beliaupun diminta oleh Saimun untuk mengobati penyakitnya, dengan niat ikhlas Habib Abdullah lalu mengobatinya. Dengan izin Allah SWT maka Saimun dapat sembuh dari penyakitnya.

Sesuai dengan nazarnya, Saimun pun menikahkan putrinya dengan orang yang dapat mengobati penyakitnya yaitu Habib Abdullah Bin Muhammad Aidid. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putri yang mereka beri nama Fatma.
Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid pun tumbuh dan berkembang menjadi seorang putri yang cantik dan salehah. Pada umurnya yang sekitar 8 tahun lebih telah mampu hapal Al Qur'an, dan beliaupun mampu mengobati orang yang sakit dengan karomahnya. Dan pada umur 9 tahun-an ketika beliau mendapatkan haid pertamanya dan setelah bersih dari haidnya, Beliau meninggal dunia.

Habib Abdullah menguburkan Jasad putrinya dan beliaupun kini tinggal sendirian setelah sebelumnya mertua dan istrinya telah meninggal lebih dahulu dari anaknya. Karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke negerinya dan meninggalkan seluruh hartanya untuk diwakafkan dan menyerahkan kepada pembantunya sambil berpesan untuk menjaga dan merawat makam putrinya,

Dan juga disebutkan salah satu karomah  Makam Syarifah Fatma, apabila ada burung yang terbang melintas diatas makamnya maka akan terjatuh, juga pesawat udara yang terbang diatasnya akan diam tak bergerak.
Dan dimasa penjajahan Belanda, para pejuang kita apabila mereka mencegat iringan konvoi tentara Belanda menuju daerah Kota atau pelabuhan Sunda kelapa dan para pejuang terdesak, mereka berlari kedaerah sekitar makam. Jika Belanda menembakkan meriamnya ke arah pejuang yang bersembunyi didaerah makam Syarifah Fatma, maka meriam itu tidak akan meledak.

Dan lainnya adalah bahwasannya cahaya dari kubur Sunan Cirebon dan juga Sunan Banten itu menyatu dengan cahaya dari kubur Syarifah Fatma lalu memancar ke langit.

Demikianlah riwayat singkat Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid atau Kramat Petogogan yang makamnya berada di Jalan Nipah, Kebayoran Baru, tepatnya di belakang kantor walikota Jakarta Selatan di areal pekuburan Petogogan Blok P, Kebayoran Baru.

Di makam itu juga setiap hari Minggu Subuh diadakan kegiatan shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan ziarah ke makam Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid yang di pimpin oleh Habib Quraisy Bin Ali Aidid yang merupakan keturunan langsung Wan Syarifah Fatma yang merasa memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan dan meramaikan mushala dan makam, beliau juga pimpinan Majlis Ta'lim Dzikrullah Maula Aidid, Pekojan.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan juga dapat megikuti kegiatan shalat subuh berjama'ah setiap minggu subuh untuk mengambil barokahnya. Waallahu A'lam.
Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah Bint Sayyid Hasan Al Anwar – Sosok Istiqomah Pemilik Aneka Karamah

Adalah sosok yg begitu teguh memegang prinsip istiqomah sehingga wajar apabila kemudian Allah SWT memberinya beberapa karamah (kekeramatan) langka yg jarang di miliki orang lain. Dialah Sayyidah (sebutan untuk keturunan Nabi) Nafisah puteri dari Sayyid Hasan Al Anwar bin Sayyid Zaid Al Ablaj bin Sayyidina Hasan(Cucu Nabi) bin Ali bin Abu Thalib KW.

Sosok perempuan tegar dalam menghambakan diri kepada Sang Khaliq ini layak di jadikan panutan oleh umat Islam pada umumnya dan Kaum Hawa pada khususnya. Wanita mulia yang lahir di Mekkah tahun 145H& tumbuh besar di Madinah ini begitu getol & Istiqomah dalam kegiatan beribadah yang total dan berperilaku Zuhud(menghindari gemerlap duniawi)

Tak jarang beliau meneteskan deraian air matanya saat bermunajat kepada Allah SWT dan memegang erat-erat satir Ka’bah seraya mengucapkan untaian doa,”Ya Tuhanku, Ya Tuanku dan Penguasaku, berikan aku anugerahMu. Dan gembirakan aku dengan ridhaMu kepadaku, tiada jalan yang aku tempuh yang akan jadi penghalang antara Engkau dan aku.”

Zainab puteri dari Yahya Al Mutawwaj(Saudara Sayyidah Nafisah) pernah mengatakan,”Aku pernah berkhidmah kepada bibiku Nafisah selama 40 tahun. Dan selama itu pula tak pernah sekalipun aku melihatnya tidur malam atau tidak berpuasa sewaktu siang. Sehingga aku bilang kepadanya,’ Bibi, apa engkau tidak kasihan pada dirimu?’ Dia pun menjawab, ‘Bagaimana aku akan meninggalkan kebiasaanku ini. Sementara kakiku akan menjadi jejak-jejak yg tiada di tempuh melainkan orang-orang yang beruntung.’ “

Menurut riwayat Al-Qusha’i bahwa suatu ketika Zainab pernah di tanya mengenai cara makannya Sayyidah Nafisah. Dia menjawab,”Sayyidah Nafisah itu makanya satu kali setiap tiga hari. Sayyidah Nafisah memiliki keranjang yg beliau letakkan di depan Mushallanya. Dan setiap ia menginginkan seseatu maka pasti tahu-tahu telah tersedia dalam keranjang tersebut. Dan aku juga menyaksikan hal itu sungguh tak pernah terbayangkan oleh benakku. Dan aku tak pernah tahu siap yg memberinnya. Aku merasa heran sekali atas kejadian itu.”

Sayyidah Nafisah berkata,”Hai Zainab, barangsiapa istiqamah bersama Allah niscaya dunia ini berada dalam genggamannya dan tunduk kepadanya.”

Wanita yg masih keturunan Nabi ini tidak hanya hafal Al Qur’an saja, tapi juga hafal tafsirnya. Dia begitu istiqomahnya dalam mengaji Al Qur’an seraya berdo’a,”Ya Tuhanku, Ya Tuanku, berikan aku kemudahan untuk berkunjung ke (maqam) kekasih-Mu Ibrahim As.”

Maka tak selang lama beliau bersama suami tercintanya, Ishaq Al Mu’taman bin Ja’far As-Shadiq mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Dan setelah beribadah haji keduanya menuju Mesir (Kairo) untuk tinggal di sana. Untuk sementara beliau tinggal di Al-Manshushah tepatnya di rumah seorang bernama Umi Hani’ (Salah satu familinya)

Di sekitar kediaman beliau tinggallah keluarga Yahudi bersama puterinya yang lumpuh. Suatu ketika ibunya berkata,”Saya akan pergi ke Al Hamam dan saya tidak tahu harus berbuat apa dengan mu, apakah kami harus membopongmu?” Anaknya menjawab,”Saya tak bisa membiarkan ibu merepotkan diri seperti itu.” Ibunya berkata,”Atau mungkin kamu tinggal saja di rumah hingga kami kembali?” Anaknya menjawab,”Jangan, Bu. Titipkan saja aku di rumah Sayyidah Nafisah.” Dan ibu anak lumpuh tersebut setuju. Kemudian diapun mendatangi kedìaman Sayyidah Nafisah seraya menitipkan putrinya tersebut dan kemudian diapun berlalu pergi.

Ketika waktu shalat Dhuhur tiba, Sayyidah Nafisah mengambil air untuk berwudlu’ & tiba-tiba dari air wudlu tersebut ada sesuatu yg keluar dan mendekati si bocah lumpuh itu. Maka beliau mengurutkan sesuatu itu pada beberapa bagian tubuh si bocah dan secara ajaib dengan seizin Allah SWT si bocah sembuh total dari kelumpuhannya.

Ketika keluarganya pulang si bocahpun menyambut mereka dengan berjalan kaki dan tentu saja keluarga Yahudi tersebut terheran-heran melihat peristiwa ajaib itu. Bagaimana anaknya yg selama lumpuh itu tiba-tiba bisa berjalan normal. Dan setelah anaknya menceritakan kejadian yg di alaminya maka mereka pun masuk islam.

Menurut Al Hasan bin Zulaq, pasca peristiwa menggemparkan itu banyak orang yg berdatangan ke kediaman Sayyidah Nafisah. Beritapun kian tersebar& orang-orangpun kian berdatangan. Namun hal itu malah membuat Sayyidah Nafisah merasa kurang enak, sehingga diapun meminta untuk pindah dari Kairo menuju Hijaz (Mekkah& sekitarnya), tempat di mana sanak saudaranya tinggal di sana. Namun atas bujukan Al Sariy bin Hakam, penguasa Mesir saat itu agar Sang Sayyidah berkenan tinggal di Mesir,maka beliaupun berkenan tinggal di sana sampai wafat, Di Kairo.

Menurut Ibnu Al Mulaqqin bahwa ketika Imam Syafi’i tiba di Mesir, beliau sering berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah. Dan bahkan As-Syafi’i pernah shalat Tarawih di masjidnya Sayyidah Nafisah& mengunjungi beliau dalam rangka meminta doa kepada Sayyidah yg di kenal dengan Istiqomah dan karomahnya tersebut.Wallahu A’laam

Majalah Cahaya Nabawiy No.50 Th.V Rabiu’l Awwal 1428/April 2007

Putri Rasul Yang Mulia

Tasbih Fatimah – Kisah Sayyidah Fatimah Dengan Gilingan Gandum

Dinamakan dengan tasbih Fatimah, karena bacaan yang diajarkan oleh Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam tersebut berkenaan dengan kejadian yang dialami oleh Fatimah ra. putri Nabi Saw., seperti yang disebutkan dalam riwayat di bawah. Tetapi tidak ada kejelasan siapakah yang mencetuskan bacaan tersebut dengan nama tasbih Fatimah. Namun tidak ada salahnya menyebut bacaan itu dengan tasbih Fatimah, mengingat peristiwa itu berkenaan dengan Fatimah ra., dan setiap pembacanya akan mengenang peristiwa yang dialami oleh Fatimah ra. putri Nabi Saw.. 

Cara mengamalkan tasbih Fathimah, cukup dengan membaca takbir [Allâhhuakbar] 34x, tasbih [subhânallâh] 33x, dan tahmid [alhamdulillâh] 33x, setiap hendak tidur.

Dalil bacaan tersebut disampaikan oleh Ali bin Abu Thalib Krw., beliau berkata,
“Fatimah ra. mengadu tentang gilingan gandum yang membekas pada kedua telapak tangannya (pekerjaan rumah tangganya yang berat). Ketika itu Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam baru mendapatkan tawanan atau budak (hasil dari peperangan). Maka Fatimah ra. pergi kepada beliau Saw. (dengan tujuan meminta budak yang dapat membantu pekerjaannya).

Namun setibanya di sana ia tidak menemui Nabi Saw.. Tetapi ia mendapati Aisyah ra., dan ia menceritakan permasalahannya kepada Aisyah ra.. Setelah kejadian itu, ketika kami sudah dalam keadaan berbaring (hendak tidur malam), tiba-tiba Nabi Saw. mendatangi kami, Maka aku hendak bangun (menyambutnya), tetapi beliau bersabda, ‘ Tetaplah kalian di tempat kalian berdua.’

Lalu beliau Saw. duduk di antara kami hingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau Saw. di dadaku. Lalu beliau bersabda,
‘Maukah kalian berdua jika aku beritahu sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta kepadaku (pembantu)? Jika kalian hendak tidur, maka bertakbirlah 34x, bertasbih 33x, dan bertahmidlah 33x. Maka itu lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.” (HR.Bukhari dan Muslim / Muttafaq ‘alaih)

Di dalam fath al-baari ( kitab syarh (penjelas) shahih al-bukhari karya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalaniy) disebutkan ada perawi yang mendahulukan tasbih terlebih dahulu dan mengakhirkan takbir. Tetapi yang ada di matan haditsnya di dalam shahih Bukhari seperti yang diterjemahkan di atas, yaitu; takbir dulu 34, tasbih 33 dan tahmid 33 .

Sedikit Tentang Sayyidah Fathimah Az-Zahra

Beliau dijuluki Saydatun Nisa`i al-Alamin. Ayahnya Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam, ibunya Khadijah al-Kubra. Dilahirkan di Makkah pada Jum ’at Jumada Tsani. Wafat pada hari Selasa 3 Jumada Tsani tahun 11 Hijrah. Dimakamkan di Baqi, Madinah. Mempunyai 2 anak laki-laki (Hasan dan Husein) dan 2 anak perempuan (Zainab dan Ummu Kultsum).

Siti Fatimah Azzahra putri kesayangan Rasullallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam., hidup zuhud dan tekun beribadah, karena pengabdiannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menjadi contoh teladan bagi seluruh ummat Islam. Karena pengabdian dan penyerahan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka beliau terkenal dengan sebutan “Al-Batul” orang yang sangat tekun beribadah.

Asma binti Umais, berkata: ”Pada suatu hari aku berada dirumah siti Fatimah. Ketika itu siti Fatimah memakai seuntai kalung pemberian suaminya Imam Ali bin Abi Thalib, hasil pembahagian barang ganimah yang diterimanya. Ketika itu Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam datang kerumah Fatimah. Ketika Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam melihat kalung yang dipakainya, baginda bersabda:
” Hai anakku, apakah engkau bangga disebut orang putri Muhammad, sedangkan engkau sendiri memakai jababirah?”(perhiasan yang biasa dipakai wanita bangsawan.)

Pada waktu itu juga, siti Fatimah melepaskan kalungnya untuk dijual. Hasil penjualan kalung tersebut ia membeli seorang hamba sahaya yang kemudian hamba sahaya itu di merdekakannya. Ketika Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam mendengarnya, baginda sungguh gembira.

IBADAH SAYYIDAH FATHIMAH AZZAHRA
Alhasan putra siti Fatimah Azzahra mengatakan:
”Tiap malam Jum’at aku melihat ibuku berada di mihrabnya. Ia terus menerus beruku ’ dan bersujud hingga cahaya pagi mulai terang. Aku juga mendengar ibuku selalu berdo ’a untuk seluruh mukminin dan mukminat, menyebutkan sebahagian nama-nama mereka dan banyak berdoa ’ untuk mereka. Ia tidak berdoa apa-apa untuk dirinya sendiri. Aku pernah bertanya :
”Apa sebab ibu tidak berdo ’a bagi diri ibu sendiri ? Seperti ibu berdoa untuk orang lain?” Ibu hanya menjawab:
”Tetangga dulu, baru keluarga sendiri ……”

Seorang ahli sufi terkenal Hasan Al-Basri pernah mengatakan:
”Dalam ummat ini, tidak ada wanita yang tekun beribadah, melebihi Siti Fatimah Azzahra, ia terus menerus solat hingga kakinya bengkak.”

www.pondokhabib.wordpress.com
Selamatkan Wanita2 Muslimah dari Fitnah Zaman . . .

Kesalahan-kesalahan Dalam Hal Pakaian Wanita

1.      Mengenakan pakaian yang sempit, transparan (tembus pandang) dan yang membuat orang tertarik untuk memandang.

Ini jelas haram. Setiap muslimah dilarang memakai pakaian yang sempit dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, juga pakaian tipis yang menampakkan warna kulit dan pakaian lain secara umum yang membuat orang terutama laki-laki tertarik untuk memandangnya. Ironinya, kenyataan ini menimpa mayoritas kaum muslimah. Allah berfirman:

"Dan janganlah wanita-wanita muslimah menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada para suami mereka." (An-Nur: 31).

"Dan janganlah mereka (wanita-wanita muslimah) memukulkan kaki-kaki mereka untuk diketahui apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka." (An-Nur: 31).

Jika memperdengarkan suara perhiasan seperti gelang kaki atau perhiasan sejenisnya yang tersembunyi tidak dibolehkan, maka bagaimana pula dengan perhiasan yang tampak nyata, lebih dari itu bagaimana halnya dengan menampakkan lengan tangan, dada, betis bahkan paha?

2.      Mengenakan pakaian yang terbuka dari bawah, atau tidak menutupi betis, dua telapak kaki, punggung, mengenakan celana pendek juga pakaian-pakaian yang menampakkan kecantikan wanita di hadapan laki-laki bukan mahramnya.

Hal ini tidak boleh dilakukan oleh wanita di hadapan laki-laki bukan mahramnya, baik di dalam maupun di luar rumah. Tetapi ironinya, pakaian jenis inilah yang membudaya di kalangan yang mengaku dirinya muslimah. Para wanita itu tidak menyadari bahwa pakaiannya tersebut merupakan jenis kemungkaran yang besar, bahkan ia salah satu penyebab terbesar bagi timbulnya berbagai tindak perkosaan dan kriminalitas. Yang lebih mengherankan, seakan jenis pakaian ini terutama di kota sudah demikian diterima masyarakat, sehingga jarang bahkan tak terdengar upaya mengingatkan kaum muslimah dari pakaiannya yang jauh dari Islam tersebut, baik lewat media massa maupun elektronik. Bahkan yang digelar di berbagai stasiun telivisi adalah pakaian-pakaian seronok dan telanjang, dan itu yang dilahap oleh kaum muslimah setiap hari sebagai panutan.

Sesungguhnya munculnya keadaan ini telah pernah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dua (jenis manusia) dari ahli Neraka yang aku belum melihatnya sekarang yaitu; kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi Surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim, shahih).

3.      Mengenakan pakaian yang berlengan pendek, termasuk di dalamnya mengenakan kaos sehingga menampakkan kedua lengan tangan.

Ini jelas haram karena tidak menutup aurat. Tetapi betapa banyak wanita muslimah yang tidak memperhatikan masalah ini, sehingga mereka mengenakan pakaian tersebut di jalan-jalan, di pasar dan di tempat-tempat umum. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar setan membuatnya indah (dalam pandangan laki-laki)." (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih). Yakni setan membuat segenap mata memandang kepada si wanita sehingga menimbulkan fitnah.

4.      Mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki, baik dalam bentuk maupun ciri-cirinya.

Ini adalah dilarang. Wanita memiliki pakaian khusus dengan segenap ciri-cirinya, dan laki-laki juga memiliki pakaian yang khusus, yang membedakannya dari pakaian wanita. Dan wanita tidak diperbolehkan menyerupai laki-laki dalam hal pakaian, penampilan dan cara berjalan. Dalam hadits shahih disebutkan:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Bukhari, shahih).

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki." (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim).

5.      Mengenakan konde (sanggul) rambut, karena ia termasuk menyambung rambut.

Ketika acara walimah pernikahan atau acara-acara pesta lainnya banyak wanita muslimah yang berdandan dengan sanggul rambut. Ini adalah dilarang. Asma' binti Abi Bakar berkata, seorang wanita datang kepada Nabi `. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai anak perempuan yang pernah terserang campak sehingga rambutnya rontok, kini ia mau menikah, bolehkah aku menyambung (rambut)nya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

"Allah melaknat perempuan yang menyambung (rambut) dan yang meminta disambungkan rambutnya." (HR. Muslim).

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang wanita menyambung (rambut) kepalanya dengan sesuatu apapun." (HR. Muslim).

Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan wig (rambut palsu) yang biasanya dipasangkan oleh perias-perias yang salon-salon mereka penuh dihiasi dengan berbagai kemungkaran. Kebanyakan orang-orang yang melakukan hal ini adalah kalangan artis, bintang film, pemain drama, teater juga wanita-wanita yang kurang percaya diri dan ingin tampil lebih. Mudah-mudahan Allah menunjuki mereka dan kita semua.

6.      Mengecat kuku sehingga menghalangi air mengenai kulit ketika berwudhu.

Setiap kulit anggota wudhu tidak boleh terhalang oleh air, termasuk di dalamnya kuku. Mengenakan cat kuku menjadikan air terhalang mengenai kuku, sehingga wudhu menjadi tidak sah. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu hingga ke siku, dan usaplah (rambut) kepalamu dan kakimu hingga ke mata kaki." (Al-Maidah: 6).

Biasanya yang mengecat kuku adalah para wanita, tetapi larangan ini berlaku umum, baik laki-laki maupun wanita.

7.      Memakai kuku palsu atau memanjangkan kuku tangan dan kaki.

Ini adalah menyalahi fithrah, dan larangan ini berlaku umum, baik bagi laki-laki maupun wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ada lima fithrah; yaitu memotong rambut kemaluan, khitan, menggunting kumis, mencabut rambut ketiak dan memotong kuku." (Muttafaq alaih).

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:
"Kami diberi waktu dalam menggunting kumis, memo-tong kuku, mencabut bulu ketiak dan rambut kemaluan agar kami tidak membiarkannya lebih dari 40 malam." (HR. Muslim).

Meskipun bagi sementara orang, memanjangkan kuku ada manfaatnya, misalnya untuk keperluan-keperluan khusus, tetapi ia tidak menjadikan hukumnya berubah menjadi boleh. Karena itu setiap muslim harus menjaga agar kukunya tidak sampai panjang, segera memotongnya jika telah tumbuh. Adapun di antara hikmahnya adalah untuk menjaga kebersihan, sehingga ia merupakan salah satu tindakan penjagaan.

8. Tidak memakai kerudung (penutup kepala).

Malapetaka besar yang dipropagandakan oleh kaum sekuler dan murid-murid orientalis adalah pendapat bahwa kerudung (penutup kepala) hanyalah kebudayaan Arab belaka, tidak merupakan perintah syari'at. Oleh mereka yang terbiasa tidak memakai kerudung, pendapat ini merupakan legitimasi dan pembenaran terhadap perbuatan mungkar mereka. Sedangkan mereka yang masih labil dan perlu pembinaan, mereka menjadi bimbang, tetapi biasanya mereka lebih mudah mengikuti trend yang ada. La haula wala quwwata illaa billah. Tidak seorang ulama salaf pun yang berpendapat kerudung (penutup kepala) bukan perintah agama. Pendapat aneh ini hanya terjadi di kalangan cendekiawan muslim yang jauh dari tuntunan salaf. Dan dalil masalah ini sebagaimana disebutkan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.


9. Tidak memakai kaos kaki, sehingga tampak telapak kakinya.

Bagi sebagian muslimah yang ta'at memakai pakaian muslimah pun, terkadang masalah ini dianggap sepele. Telapak kaki termasuk aurat, karena itu ia harus ditutupi, membiarkannya kelihatan berarti kemungkaran dan dosa. Dalil masalah ini sebagaimana disebutkan dalam masalah-masalah terdahulu.

Wanita pada dasarnya sangat senang dipuji, baik kecantikannya, kelembutannya dan sifat-sifat indahnya yang lain. Tetapi banyak yang terperosok jauh, ingin dipuji kecantikannya, meski dengan resiko membuka aurat, agar tampak lebih indah mempesona. Ingatlah, wanita adalah sumber fitnah. Dan fitnah terbesar dari wanita adalah soal auratnya. Kaum muslimah yang menutup aurat secara syar'i berarti telah memberikan sumbangan terbesar bagi tertutupnya sumber fitnah. Karena itu, berhati-hatilah wahai kaum muslimah dalam hal berpakaian!

Rifqi Idrus Al Hamid


Assalamu 'Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarokatuh

Video Streaming Acara Akbar "Majelis Rasulullah"